REFLEKSI AKHIR TAHUN 2019 DAN PROSPEK 2020 IABIE

Tahun 2019 segera silam, banyak peristiwa yang sulit kita lupakan. Datangnya tahun baru 2020 kita sambut dengan rasa optimis yang disertai bermacam mitigasi serta strategi untuk menggapai prospek berbagai bidang.

Tantangan 2020 telah menghadang warga dunia khususnya segenap bangsa Indonesia. Menginjak tahun baru rasa kemanusiaan dan solidaritas untuk menegakkan HAM dan pemihakan untuk etnis dan golongan yang tertindas harus kita tingkatkan. Karena itu adalah amanah konstitusi negara kita dan juga ajaran Pancasila sila kedua. Untuk itu solidaritas tidak hanya sesama warga bangsa tetapi juga mencakup warga dunia dibelahan lain yang saat ini sedang tirtindas dan terjajah. Salah satunya adalah etnis Uighur yang kini tengah mengalami kekerasan dan kekejian diluar batas kemanusiaan oleh rezim penguasa.

Ikatan Alumni Program Habibie mengajak kepada segenap bangsa untuk lebih siap menghadapi segala macam kemungkinan serta tangkas dalam merebut berbagai peluang. Perlu mitigasi berbagai bidang agar bangsa Indonesia sanggup menghadapi tantangan 2020. Mitigasi tidak hanya untuk mengantisipasi datangnya bencana alam. Tetapi juga mitigasi yang terkait dengan dampak kemajuan teknologi, turbulensi perekonomian global serta serbuan disrupsi teknologi yang telah menjungkirbalikan berbagai tatanan sosial dan lepangan kerja.

Mitigasi mesti disertai dengan etos kerja yang tinggi dan kemampuan berinovasi teknologi. Terkait etos kerja dan daya inovasi kita telah mendapat teladan yang hebat dari sosok negarawan yakni BJ. Habibie yang juga sebagai Presiden ketiga RI. Sejarah mencatat bahwa BJ Habibie memiliki etos kerja dan kehebatan daya inovasi setara bangsa Jerman. Karena beliau selama bertahun-tahun bermukim disana, belajar dan berkarya di Jerman dan meraih sukses yang luar biasa serta berhasil merumuskan transformasi teknologi dan industri bagi bangsanya. Etos kerja, ketajaman berpikir, daya inovasi teknologi dan beragam inisiatif sosial, politik dan kebudayaan yang diwariskan oleh BJ.Haibie merupakan bekal persaingan kita di masa depan.

Dalam menyongsong tahun baru 2020, Pengurus Pusat IABIE memberikan beberapa penekanan dan langkah yang sangat strategis dalam perjalanan bangsa kedepan serta bisa menjadi senjata hebat dalam persaingan global.

  1. BELA NEGARA DAN MEMBUMIKAN PANCASILA

Datangnya tahun 2020 merupakan kesempatan untuk membumikan Pancasila dengan kondisi kekinian. Dalam silabus Kemhan arti bela negara adalah sikap dan tindakan warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI. Upaya mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara sebagai nilai dasar bela negara mencakup cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, yakin pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara serta memiliki kemampuan bela negara dalam bentuk menjaga segala aspek kedaulatan.

Pembangunan karakter SDM bangsa adalah merupakan suatu bagian dari bela Negara pada hakekatnya memerlukan program nasional mentorship yang didukung peran sejumlah supermentor kekinian yang mampu menggerakkan masyarakat. Supermentor kebangsaan pada saat ini bisa diperankan oleh mereka yang memiliki kapasitas pendidikan karakter dan budi pekerti. Selain itu juga didukung oleh para inovator, pelaku startup nation maupun perorangan yang memiliki pengalaman luar biasa.

  1. PERAN STRATEGIS BRIN

Memasuki 2020 indeks inovasi nasional dan daerah perlu digenjot. Hal itu sesuai dengan langkah Menristek Bambang Brodjonegoro yang juga sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Begitu pula  Presiden Joko Widodo telah memberi perintah agar pengembangan riset harus berujung inovasi yang menghasilkan sesuatu untuk masyarakat luas. Presiden menyoroti kegiatan riset yang hanya berhenti untuk riset. Mestinya tujuannya untuk kepentingan masyarakat luas. Esistensi BRIN harus mampu mewujudkan sistem dimana riset itu saling terintegrasi. Selama ini ada begitu banyak badan riset, namun semuanya jalan masing-masing. Belum ada yang menjadi integrator dari hulu ke hilir. Selain sebagai integrator riset BRIN pada tahun 2020 mesti mampu berperan mewujudkan gerakan Indonesia kreatif dan inovatif. BRIN bisa mendorong kegiatan kreatif dan inovatif masyarakat apapun bentuknya hingga menjadi entitas ekonomi yang tangguh. Kegiatan itu sebaiknya mendasarkan diri pada filosofi alamiah tentang kemampuan merakit pada embrio makhluk hidup setelah mengalami fertilisasi.

BRIN mesti mampu mengelola dan mengembangkan secara progresif kapasitas inovasi nasional dan daerah. Otoritas juga bertanggung jawab terhadap percepatan difusi inovasi segala lini serta melakukan literasi dan edukasi. Selama ini belum ada lembaga tersendiri yang mengelola dan mengembangkan inovasi, akibatnya sistem inovasi di negeri ini masih belum efektif dan kurang berdaya. Sistem inovasi sebenarnya mencakup basis IPTEK (termasuk di dalamnya aktivitas pendidikan, aktivitas litbang, dan rekayasa), basis produksi (meliputi aktivitas-aktivitas nilai tambah bagi pemenuhan kebutuhan bisnis dan non bisnis serta masyarakat umum), dan difusinya dalam masyarakat serta proses pembelajaran yang berkembang. Eksistensi BRIN harus mampu mensinergikan tiga unsur utama dalam sistem inovasi. yakni, pertama unsur kelembagaan (litbang, pendidikan, industri, intermediasi, keuangan atau perbankan). Unsur kedua adalah jejaring kelembagaan sistem inovasi. Dan unsur yang ketiga adalah instrumen  Kebijakan berupa perangkat.hukum  dan  peraturan  yang  mengatur  tentang..hak  atas  kekayaan  intelektual(HAKI), pembiayaan  inovasi  (seperti misalnya modal ventura), pengelolaan resiko teknologi, standardisasi dan sertifikasi.

  1. MEWUJUDKAN GURU PENGGERAK DENGAN EFEKTIF

Memasuki tahun 2020 perlu transformasi pendidikan nasional demi meraih kemajuan dan daya saing bangsa. Indonesia butuh SDM unggul dengan standar dunia dalam jumlah yang sangat banyak. Untuk mencetak SDM unggul yang sesuai dengan kemajuan teknologi dan era disrupsi Menteri Pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim membuat program unggulan yakni mencetak Guru Penggerak. Dengan peran guru, pemikiran guru, inovasi-inovasi dan ide yang dimiliki para guru, Menteri Nadiem optimis bahwa tantangan seberat apapun bisa diselesaikan.

IABIE berpendapat bahwa jika  masalah guru tertangani dengan baik, maka 75 persen masalah pendidikan di Indonesia telas selesai. Yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah guru yang kreatif, cerdas, inovatif, bekerja berdasarkan panggilan jiwa sehingga pikiran dan hatinya akan tergerak. Tahun 2020 sebaiknya dijadikan kesempatan untuk merancang postur guru nasional yang ideal untuk meningkatkan daya saing bangsa. Postur guru nasional yang jumlahnya sekitar tiga juta orang merupakan elemen bangsa yang amat penting untuk membangun karakter dan rasa optimisme serta mencetak SDM unggul yang terbarukan.

Perlu meningkatkan metode pembelajaran pengelolaan manajemen sekolah baik negeri maupun swasta; pengembangan keterampilan pendidikan sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) dan peningkatan kemampuan siswa Indonesia dalam high order thinking skills (HOTS). Keberhasilan program diatas sangat tergantung kepada faktor guru. Untuk membentuk guru yang ideal dan sumber inspiratif dibutuhkan wahana dan kesempatan bagi guru untuk mengikuti perkembangan global. Wahana tersebut untuk menunjang proses pengajaran serta meningkatan profesionalitas guru. Sedangkan kesempatan yang harus diberikan untuk guru adalah mengikuti pendidikan lanjutan ke  luar negeri atau mengikuti bermacam event tentang perkembangan metode pendidikan global dan teknologi yang relevan.

Demikian Refleksi Akhir Tahun 2019 dan Prospek 2020, Semoga Allah SWT selalu memberkati rahmad dan hidayah kepada segenap bangsa serta memberikan kekuatan yang luar biasa untuk bersaing pada era globalisasi dan Revolusi Industri 4.0 saat ini.

Jakarta 31 Desember 2019

Bimo Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA                            Dr. Ir. Kuntjoro Pinardi, MSc

             Ketua Umum IABIE                                                      Sekretaris Jendral

 

%d blogger menyukai ini: