Wejangan Prof. Dr. Ing. BJ Habibie

WEJANGAN PROF. Dr. Ing. BJ HABIBIE

PRESIDEN KE 3 RI – KETUA DEWAN PEMBINA IABIE

DALAM ACARA BUKA PUASA BERSAMA IKATAN ALUMNI HABIBIE – IABIE

Wisma Habibie Ainun, Jl. Patra Kuningan XIII Jakarta

 

Jakarta,18 Juli 2014

Pak Habibie memulai wejangannya dengan meminta maaf pakai baju koko putih dengan syal putih (tidak seperti dress code hadirin yg pakai batik). Beliau sampaikan beliau pakai baju putih seperti itu karena kebiasaan dulu ketika masih bersama Ibu Ainun. Setiap hari Jumat Pak Habibie ke masjid di dekat rumah dengan baju putih. Dan Pak Habibie bilang, itulah contoh sebuah pembudayaan atau Erziehung dalam bahasa Jerman (Pak Habibie juga menyebutkan kata sepadannya dalam bahasa Inggris dan Belanda, namun saya tidak mencatat).

Pak Habibie menyayangkan bahwa dalam debat-debat dua kubu pasangan capres-cawapres, tidak sekali pun kata pembudayaan disebut. Pembudayaan tidak kalah pentingnya dari pendidikan. Di lain pihak, kalau hanya pembudayaan, tapi tidak ada pendidikan, maka tidak trampil atau tidak punya skill, dan akhirnya tidak bisa memberikan nilai tambah.

Pak Harto sangat powerfull. Kalau anda tidak performed seperti yang diharapkan, anda ‘out’. Saya berada di Jerman, kenapa Pak Harto panggil. September nanti saya adalah 50 tahun kelulusa S3 saya, dan saya waktu itu berumur 28.
Ilham baru dua tahun, Tarek belum lahir.

Saya bisa melamar di Messer Schmidt (saya tidak mau?). Saya bisa melamar ke yang lain. Waktu itu perang dingin. Kalau anda buat patent atau publikasi, maka itu membantu pihak lain melakukan spionase, apa masalah yang anda hadapi/geluti.

Bagaimana sirip bisa utk mengarahkan pesawat. Waktu itu Finit Element belum ada, hanya dengan analisis. Anda tidak bisa jelaskan fenomena fisika tanpa bahasa matematik. Yg tidak perlu bahasa matematik adalah ketika menjelaskan Cinta (hadirin “bergemuruh” ketika Pak Habibie sampaikan hal ini). Kalau anda menjelaskan fenomena fisika, maka anda perlu bahasa matematika.

September 1964, alhamdulillah saya selesai S3. Saya dibayar sebagai asisten untuk lakukan riset S3, sebagaimana sistem yang berlaku di Jerman pada umumnya, juga yang dijalani Ilham yang harus mengajar (dalam hati saya bilang, “Pak Habibie, saya juga begitu, dibayar ketika melakukan riset S3 saya.” …hehehe) Saya itu harus hidup karena harus membiayai Ilham yg baru lahir, harus membiayai Ainun. Saya mau pulang, kalau diberi kesempatan buat pesawat. Kalau suruh dagang, saya tidak mau.

Wajah kita orang Indonesia awet muda, wajah kekanak-kanakan, tanpa jenggot lagi. Anda umur 28 tahun, bergaul dengan orang Jerman yang badannya besar-besar, paling dikira umur 19. Gimana ini orang yang baru 19 tahun-an sudah S3. Dan mereka iri, tapi itu normal. Satu per satu mereka datang ke saya dengan pertanyaan atau permasalahan. Mereka bukan bertanya karena menghadapi masalah, tapi karena mau menguji saya, dan setelah dua bulan, mereka percaya.

Anda harus tahu, anda mau ke mana, dan harus berani utk melaksanakan perubahan, dan dengan perubahan itu anda bisa maju. Tiap perubahan biasanya bisa (salah satu dari) dua irreversible atau inpredictable.

Suatu hal yang normal, seorang ayah ingin anaknya lebih baik. Anda harus lebih dari saya, dan anak-anak anda harus lebih baik dari anda. Kalau tidak, ya tidak ada progres.

Waktu itu saya dipanggil Pak Harto (via Ibnu Sutowo, 28 Januari, hari Senin, tanggal 1976 (atau 1978?)). Pak Harto bilang, “Habibie, saya sudah putuskan, anda harus persiapkan kerangka tinggal landas.” Pak Habibie bilang dalam hati, “wah, bukan insinyur pesawat terbang, tapi memakai istilah tinggal landas.” Pak Harto jelaskan apa yg dimaksud. Pak Habibie bilang ke Pak Harto,”Pak, saya hanya tahu pesawat, dan hanya pesawat komersiil. Karena kita perlu untukk mempersatukan Indonesia.” Pak Harto bilang, “Kalau kamu bisa buat pesawat, kamu bisa buat apa saja,” kata Pak Harto. “Saya perlu banyak duit Pak, untuk riset, dst.”

Semua itu perjuangan, dan kita harus berani. Nggak usah takut. Seumur anda, saya harus bicara di Washinton DC, ke Boston, Harvard, …dll …utk bicara demokrasi (?), dan yang datang guru besar, doktoran, dan graduate student. Lihat, saya seperti anda, saya tukang, tukang buat pesawat terbang.

Kalau saya yg menentukan, maka saya larang itu TKW. Apa yg anda makan, implisit ada jam kerja. Jadi, perjuangkan Bung. You must be better than me. Anda tidak boleh jadi ekslusiv, tapi inklusiv. Anda berada diujung tombak, tapi bukan satu-satunya (ujung tombak). Anda telah melalui proses pembudayaan dari orang tua, kalau tidak, maka tidak jadi seperti anda sekarang.

Pak Andi, N219. R80 yg nanti kita bisa lebih atau sama dg yg lain. I want to be number one of the world. Jumlah manusia yg terbang adalah 3x jumlah penduduk untuk warga Amerika, Jerman, dan beberapa negara Eropa yang lain. Kalau kita 250 juta, kita harus … apalagi di sini tidak ada kereta atau bus untuk menyambungkan Indonesia.

Yang beli tiket pesawat di kita adalah 72 juta, dari yg awalnya 7 juta.
Masak kita hanya mau beli saja (pesawatnya). Itu mentalitas VOC yang mementingkan diri sendiri.

Merdeka, yg dobrak Bung Karno, seorang Ir. seperti saya dan anda. Saya ingin menggaris-bawahi. Anda harus lebih baik dari saya, dan saya titip, anak anda adalah cucu saya, dan mereka harus lebih baik dari anda.

Ada masalah, kalau Pak Habibie bicara, tidak bisa berhenti. Pak Habibie selalu sendiri (menyendiri), karena pingin tahunya banyak. Sampai detik ini. Hobby saya berenang, kalau bisa 1 jam, setelah itu bekerja. Di pesawat pun saya manfaatkan untuk membaca dan membaca (beliau cerita barusan pulang dari perjalanan ke luar negeri). Makanya kalau ketemu orang, saya pingin bicara.

Jerman menang, bisa kalahkan Brasil dan Argentina, kenapa? Karena teamwork. Goetze 22 tahun, bapaknya guru besar. Mereka teamwork, dan mainnya pakai otak.
Kita belajar dr jerman kebaikannya, karena ada sisi kurang baiknya juga. Kita harus bersinergi positif.

Ada yang bilang, “you are lucky man.” No, i am not a lucky man, it is designed (atau decided?) by God.
Saya setengahnya Jawa. Ibu dr Jawa/Jogja. Ayah saya keturunan Bugis yg merantau ke Gorontalo. Mereka (leluhur Pak Habibie) konsentrasi pada kopra. Anak-anaknya hanya belajar agama. Kalau kaya, naik haji.

Ayah saya dikirim ke IPB belajar pertanian, adiknya belajar dokter hewan. Dulu belum IPB, juga belum bernama ITB, dan belum juga UI. Pak Habibie juga bercerita perjalanan sejarah keluarga (ayah dan kakak Bu Ainun) yang intelektualnya tinggi (guru besar).

Dulu orang Jawa, jika nikah dg non Jawa, seperti nikah dengan orang kurang beradab. Ayahnya saya seperti kurang diterima di keluarga besar Ibu saya. Akhirnya mereka kembali ke Sulawesi, sehingga saya lahir di Pare-pare.

Pak Harto pernah bertanya ke Pak Habibie, “Habibie, kamu tahu siapa dirimu?” “Saya tahu, setengah saya adalah jawa, seperempat pare-pare dan seperempat Gorontalo.” Pak Harto menimpali, “otak/iptek dan hati/imtaq-mu dr Jawa. Pare-pare dan Gorontalo adalah ‘ototnya'”. Pak Habibie menceritakan kenapa Pak Harto bilang begitu, karena tidak jauh dari rumah (asal) Pak Harto adalah keluarga/leluhur Ibunda Pak Habibie. Dan mereka ini punya tradisi intelektual yang kuat juga (dokter dll)

Saya yakin, keluarga anda lebih baik dr keluarga saya. Semoga anda dan anak-anak anda lebih baik dr saya. Itu baru namanya progres. Be hard, be reasonable, be fair, and be low profile, never2 be hero. Kalau orang anggap anda bodo, ya nggak apa-apa.

Saya tanya Pak Harto, dari mana uangnya? Dari minyak. Dulu kita eksporter no. 3, sekarang kita bukan anggota OPEC, karena kita importer. SDA harus jadikan SDM Indonesia jadi unggul, dan untuk itu perlu pembudayaan, pendidikan, dan sinergi. Dari situ produktivitas dan keunggulan.

Yang kita kejar bukan sekedar pajak saja, tapi jam kerja, dan pajak akan otomatis akan mengalir kalau jam kerja ada di kita. Terkait pilpres, siapa pun yg dipilih, itu adalah kemengan rakyat, mereka adalah milik rakyat, dan nanti harus pro rakyat.

Saya bilang ke Pak Harto, saya butuh SDM. Saya butuh laboratorium. Dengan ini saya bisa buat pesawat. Waktu saya datang itu, sebagian besar ekonom dan juga insinyur tidak sependapat dg Habibie. Habibie dianggap mimpi. Mimpi harus ada utk kita bekerja.

Menteri P dan K kala itu telfon, “anda supaya beri penjelasan tentang cita-cita anda di depan Ikatan Insinyur Indonesia, Ikatan Ekonom, dst.” Saya perlihatkan rencana saya, jangka pendek dan jangka panjang. Kita jangan otoriter. Saya persilakan hadirin untuk bertanya. “Ada pertanyaan?” Nobody ask. Akhirnya ketua PII (Pak Habibie sebut nama), “Kita sdh tahu, …dst.” Jangan lupa, waktu itu habis Malari. Semua penasehat Pak Harto …(habis?/ganti?) , dan tidak ada unknown person/anak muda yg jadi penasehat Pak Harto.

Pertanyaan ke Pak Habibie, “Kenapa anda jadi penasehat Suharto?” Pak Habibie menjawab, “Mungkin di antara anda semua, sy ini paling bodo. Tapi saya punya anak, saya harus membiayai. Dan untuk itu saya harus kerja. Kalau saya jadi begitu (jadi penasehat Pak Harto), bukan urusan saya, tapi urusan yang menilai saya.” Pak Habibie tegaskan, “tolong tanyakan itu ke Pak Harto langsung.”

Saya pernah dikritik, kenapa pegang 32 jabatan eksekutif. “Kalau anda lihat di sistem saya ada yg gak jalan, saya siap mundur.” Kita sama-sama punya 24 jam, tapi apa yang masing-masing kita lakukan. Sleeping? Yang menilai bukan anda, tapi masyarakat.

Saingan Ainun bukan wanita (bukan pria), tapi pekerjaan Habibie. Seorang Ibu lebih berat, karena dia yg akan mempersiapkan generasi dan peradaban.

 

Dituliskan kembali oleh M. Abdul Kholiq alumni STAID 2 Jerman

%d blogger menyukai ini: