PRESS RELEASE Hardiknas 2018 dan Peran Supermentor Menyongsong Era Industri 4.0

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018 menjadi momentum untuk mengantisipasi era disrupsi dan datangnya revolusi Industri 4.0. Para siswa dan mahasiswa sekolah saat ini akan langsung menghadapi era diatas sehingga perlu navigasi dan pembekalan agar termotivasi serta mampu bersaing secara global.

Era Industri 4.0 dan gelombang disrupsi teknologi harus dipahami secara baik oleh siswa sekolah. Dalam era tersebut sering muncul realitas baru yang sulit dipahami dan penuh persaingan yang menghancurkan bahkan mematikan. Banyak ragam profesi yang terkubur lalu muncul jenis profesi baru. Agar para siswa sekolah memahami fenomena diatas lebih dini, dibutuhkan peran Supermentor yang memiliki kapasitas dan pengalaman global untuk menjadi navigator.

Tema peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2018adalah “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Peran supermentor sangat strategis untuk menguatkan pendidikan. Karena bisa menunjang tugas guru dan menambah pengetahuan mereka terkait dengan kemajuan Iptek terkini.

Supermentor  bisa diperankan oleh mereka yang memiliki kapasitas sebagai inovator, pelaku start-up nation dan perorangan yang memiliki pengalaman sebagai diaspora atau pernah kuliah di negara maju yang menjadi pioner lahirnya disrupsi teknologi dan Industri 4.0.Seperti Amerika Serikat, Jerman, Jepang dan negara maju lainnya.

Peran supermentor sangat penting untuk menumbuhkan karakter unggul siswa sesuai kemajuan zaman yang mengedepankan daya imajiansi dan kapasitas inovasi. Keniscayaan, sekolah mesti menjadikan setiap mata pelajaran agar menyenangkan dan bisa dihayati lebih mendalam. Perlu menerapkan prinsip dimana sekolah sebagai tempat wisata ilmu pengetahuan dan pengembang budaya sepanjang hari.Prinsip diatas bisa diimplementasikan dengan menggalakkan metode eksperimental yang menarik dengan cara membuat proyek-proyek ilmiah sederhana yang relevan dengan kemajuan teknologi dan informasi.

Reformasi pendidikan sebaiknya melibatkan para Supermentor secara masif. Warga negara yang memiliki kriteria sebagai Supermentor sebaiknya diterjunkan ke sekolah-sekolah secara berkesinambungan. Para Supermentor juga bisa menjadi navigator atau penunjuk jalan bagi para lulusan SMA berbakat untuk belajar di Perguruan Tinggi terkemuka di luar negeri. Berbagai skema pengiriman siswa berbakat perlu dibuat, dari skema beasiswa dari negara lewat kementerian, beasiswa pemerintah daerah maupun pengiriman secara mandiri oleh para orang tua yang memiliki kemampuan dana.

Sungguh tidak adil jika tunas-tunas muda berbakat tersebut kehilangan kesempatan untuk menjadi SDM bangsa yang hebat. Apalagi Indonesia sebenarnya baru sedikit mengirimkan pelajarnya ke luar negeri.Sungguh ironis, dengan jumlah penduduk lima besar dunia,  namun hanya sekitar 60 ribu orang yang belajar ke luar negeri. Suatu rasio yang amat timpang jika dibanding dengan negara lain.Pengiriman siswa ke luar negeri adalah salah satu wujud kepedulian negara dan masyarakat dalam peningkatan kualitas SDM untuk mengatasi masalah disrupsi teknologi dan mengantisipasi datangnya era Industri 4.0.

Atas perhatian dan kerjasama antara IABIE dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

%d blogger menyukai ini: