Indonesia Mampu Bersaing Secara Global, Stop Tenaga Kerja Asing (TKA) yang Tidak Memiliki Keahlian Tinggi

Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) mengucapkan selamat Hari Buruh 1 Mei 2018. Buruh merupakan aset bangsa yang sangat penting untuk kemajuan. Buruh merupakan tulang punggung produktivitas bangsa.

IABIE mendukung tuntutan untuk menghentikan banjir tenaga kerja asing  (TKA). Kondisi perkembangan SDM Indonesia kini sudah mampu dan menguasai berbagai jenis profesi teknik dan manajemen untuk pembangunan bangsa. Jangan “kerdilkan” kemampuan anak-anak bangsa dengan cara mengerahkan TKAsecara masif dan besar-besaran untuk menjalankan pabrik, usaha pertambangan dan proyek infrastruktur di Indonesia. Jenis profesi di Indonesia, seperti engineer, teknisi, peneliti, ekonom, pengembang aplikasi IT, dan profesi lainnya sudah mampu menguasai perkembangan teknologi.

Sejak era 80-an SDM bangsa sudah disiapkan untuk alih teknologi dari negara maju.Mereka telah menguasai bidang keilmuwan yang menjadi penentu kemajuan bangsa. Kini SDM berdaya saing IPTEK telah banyak tersedia di negeri ini dan banyak diantara mereka yang menjadi diaspora berdaya saing Iptek yang tersebar di berbagai belahan dunia. Pemerintah harus mampu mengoptimalkan peran mereka untuk pembangunan. Jangan malah justru mengerahkan TKA untuk pembangunan, sementara para insinyur dan teknisi asli anak bangsa hanya menjadi penonton dan dipaksa gigit jari.

IABIE merekomendasikan bahwa TKA boleh datang ke Indonesia dengan syarat memiliki keahlian yang tinggi yang bisa dibuktikan secara meyakinkan. Eksistensi TKA yang datang ke Indonesia harus melalui  skrening atau pemeriksaan yang ketat oleh lembaga profesi dan badan clearing house teknologi. Sehingga TKA itu memang layak untuk bekerja di Indonesia.

IABIE mengecam keras modus pengerahan TKA yang sebenarnya tidak memiliki keahlian yang tinggi. Mereka adalah pekerja biasa yang dibungkus dengan predikat ahli tanpa melalui penilaian khusus. Dengan demikian terjadi kepalsuan dalam hal alih teknologi. Ukuran terjadinya alih teknologi oleh TKA harus jelas dan terukur. Hal ini dibuktikan para tenaga kerja lokal yang berperan sebagai pendamping TKA, harus  benar-benar bisa menyerap keahlian baru yang belum ada atau jarang di Tanah Air. Begitupun tingkat teknologi yang dibawa oleh TKA juga tergolong teknologi canggih. Bukan teknologi lama yang sebenarnya sudah ada di negeri ini.

Selama iniTKI pendamping dibuat asal-asalan akibatnya parameter terjadinya alih teknologi tidak terjadi. Dengan demikian fungsi TKA itu sebenarnya bisa digantikan oleh tenaga kerja lokal. Namun perjanjian kontrak investasi dan perjanjian utang  untuk proyek infrastruktur dan utang pihak swasta telah dibikin sedemikian rupa yangk mengutamakan peran TKA dan meminggirkan TKI. Dalam kasus TKA dari Cina definisi alih teknologi sangat jauh panggang dari api. Alih-alih transfer teknologi, para TKA dari negara tirai bambu itu sebagian besar mengalami kendala bahasa. Mereka kesulitan berbahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

IABIE mendukung kegigigan berbagai macam organisasi buruh/pekerja yang menentang Perpres 20/ 2018 tentang TKA. Tuntutan kawan-kawan buruh sangat logis dan berdasarkan alasan yang obyektif.  Terlihat jelas pasal-pasal dalam Perpres memang sangat merugikan tenaga kerja lokal. Usaha untuk memacu pembangunan infrastruktur belum disertai dengan proses transformasi, audit teknologi dan perluasan lapangan kerja atau penciptaan job creation.

Pemerintah ibaratnya memberikan cek kosong bagi pengusaha atau investor untuk memilih dan menentukan sendiri spesifikasi teknologi yang akan diterapkan di negeri ini. Pengadaan infrastruktur dengan skema pembiayaan apapun harus mengedepankan local content dan melibatkan seluas mungkin tenaga kerja lokal.

Fungsi lembaga pemerintah yang berkompeten sebagai  clearing house technology seperti BPPT, Bapenas/Bapeda dan perguruan tinggi hingga saat ini belum dilibatkan secara optimal untuk melakukan audit teknologi terhadap produk atau proyek infrastruktur yang masih dalam perencanaan maupun yang sudah berlangsung.

Atas perhatian dan kerjasama antara IABIE dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

 

Jakarta,  1 Mei  2018

Bimo Joga Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA                

Ketua Umum                                                     

 

%d blogger menyukai ini: