Pahlawan Masa Kini

Peringatan Hari Pahlawan 2017 bertema Perkokoh Persatuan Membangun Negeri. Pertempuran besar di Surabaya pada 10 November 1945 antara rakyat Indonesia dengan pasukan sekutu Britania Raya merupakan revolusi kemerdekaan yang digerakkan oleh para pemuda dan pelajar. Pertempuran Surabaya yang tercatat sebagai salah satu perang yang dahsyat sepanjang sejarah dunia, menyebabkan sekitar 16 ribu pejuang gugur di medan perang sebagai kusuma bangsa. Perang tersebut berlangsung selama 20 hari.

Hari Pahlawan menjadi spirit bagi pemuda pelajar zaman sekarang untuk terus berjuang untuk kejaaan bangsanya. Bentuk pertempuran pemuda pelajar jaman sekarang tersebar di berbagai bidang dan medan di seluruh dunia. Pemuda zaman sekarang berpotensi menjadi pahlawan masa kini yang mewarisi semangat Hari Pahlawan. Perlu keberlanjutan daya juang dan menyambung cita-cita para pahlawan muda yang gugur dalam pertempuran Surabaya yang tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar).

Hal diatas dari masa ke masa telah berlangsung. Setelah revolusi kemerdekaan para pejuang muda yang masih berstatus pelajar sekolah menangah itu beberapa diantaranya melanjutkan kuliah di dalam dan luar negeri. Beberapa anggota TRIP telah dikirim ke Eropa untuk melakukan “pertempuran” yang lain di berbagai perguruan tinggi terkemuka di Jerman, Prancis, Swedia, Rusia dan lain-lain. Mereka semua menyiapkan dirinya untuk melakukan revolusi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kini Indonesia butuh pahlawan masa kini, apalagi planet Bumi kondisinya semakin crowded sehingga perlu inisiatif yang mampu melahirkan berbagai inovasi dan karya teknologi. Melihat kondisi global seperti itu, Indonesia ini membutuhkan pahlawan masa kini, yakni tokoh-tokoh Zeitgeist. Yakni tokoh yang benar-benar mampu mengendalikan semangat jaman dengan inisiatif besar lewat berbagai inovasi untuk menuju cita-cita Proklamasi Kemerdekaan RI. Istilah Zeitgeist berasal dari bahasa Jerman yang secara harfiah berarti jiwa dari suatu waktu (time spirit). Istilah tersebut juga sering kita jumpai dalam ucapan dan tulisan para pahlawan dan pejuang Republik Indonesia.

Dalam konteks globalisasi gelombang ketiga sekarang ini makna Zeitgeist mencuat kembali. Sampai-sampai Google memberi makna tersendiri sebagai “the general intellectual, moral, and cultural climate of an era” (intelektual, moral dan kultur umum pada suatu era). Sejarah menunjukkan bahwa kaum belia lebih trengginas mengendalikan semangat jaman dan berani membuat revolusi alias perubahan mendasar.

Pemuda pelajar adalah pahlawan masa kini, dengan penguasaan teknologi dan komunikasi di zaman global saat ini, maka pemuda dapat menjadi aset yang paling berharga yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Seperti yang pernah digaungkan oleh Presiden Soekarno “Berikan aku seribu dakwah, maka akan aku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”.

Atas perhatian dan kerjasama antara Ikatan Alumni Program Habibie dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

MERDEKA!

Jakarta, 10 November 2017

 

 

%d blogger menyukai ini: