Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 & SDM Terbarukan

Puncak acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) ke-22 diselenggarakan  di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 10 Agustus 2017. Hakteknas kali ini bertema pembangunan maritim berbasis pengetahuan, dengan subtema peran SDM dan inovasi dalam pembangunan.

Presiden Jokowi mengingatkan kepada semua pihak agar menyiapkan SDM usia produktif dengan baik. Presiden mengatakan perubahan dunia saat ini sangat cepat sekali. Negara lain bahkan sudah membahas soal pengelolaan ruang angkasa (Space-X) dan memindahkan orang banyak dengan cepat atau sistem Hyperloop.

Menurut Pak Habibie makna Hakteknas yang terdalam adalah menyiapkan sebanyak mungkin SDM teknologi yang terbarukan, yang artinya orang yang produktif, kreatif yang kualitasnya meningkat dari generasi sebelumnya. Baik SDM yang menggeluti hi-tech atau teknologi canggih maupun teknologi tepat guna yang sangat dibutuhkan oleh usaha rakyat. Untuk mencetak dua macam SDM teknologi tersebut membutuhkan program yang luar biasa.

Perlu reorientasi program untuk mencetak SDM teknologi, baik teknologi tepat guna lewat penataan pendidikan vokasi yang lebih sesuai dengan usaha rakyat dan kondisi pasar. Sedangkan untuk mencetak SDM teknologi yang tergolong hi-tech perlu reorientasi atau peninjauan kembali program Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Reorientasi pada intinya penambahan program dan pengalokasian dana untuk pengiriman lulusan SMA/SMK berbakat untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi luar negeri dalam prodi teknologi tinggi. Karena prodi tersebut belum ada atau kurang memadai pada perguruan tinggi di dalam negeri.

Peringatan Hakteknas selain mendorong kemajuan teknologi di segala bidang juga mengandung strategi pengembangan SDM utamanya membenahi SDM teknologi nasional. Untuk mencetak SDM teknologi nasional mesti dilakukan sejak dini. Sejak mereka lulus sekolah menengah (SMA dan SMK).

Data kependudukan di negeri ini menunjukan bahwa jumlah pemuda mencapai 62 juta orang. Definisi pemuda menurut undang-undang adalah warga negara dengan rentang usia antara 16 hingga 30 tahun. Rentang tersebut merupakan usia emas untuk proses kreativitas dan inovasi. Usia emas bagi inovator terlihat pada geniusitas  belia pendiri  perusahaan multinasional Facebook dan Google saat melahirkan karya besarnya.

Dengan demikian perhatian negara harus terfokus kepada rentang usia belia yang berpotensi menjadi SDM unggul di bidang teknologi. SDM tersebut baik yang dicetak di dalam negeri maupun di luar negeri dengan kuliah di perguruan tinggi terkemuka.

Peringatan Hakteknas kali ini adalah meomentum membangkitkan SDM teknologi di perdesaan, khususnya daerah terpencil atau kabupaten yang masih terbelakang. Perlu terobosan untuk membangkitakn SDM perdesaan lewat pendidikan. Seperti yang pernah diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti, agar mengirim para lulusan SMK kejuruan perikanan dari daerah terpencil untuk kuliah di Jepang guna mendalami teknologi maritim dan budi daya sumber hayati dan proses nilai tambahnya.

Terobosan memberikan bea-siswa ikatan dinas bagi siswa berprestasi dari sekolah menengah untuk belajar di luar negeri patut diapresiasi dan diperluas. Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang dibentuk berdasarkan UU Nomor 2 tahun 2010 tentang Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) mestinya menjadi ujung tombak dalam mencetak SDM teknologi sejak usia belia.

Terobosan diatas bisa mencontoh program Menristek BJ Habibie pada medio tahun 80-an yang berhasil mengirimkan sekitar 2.000 pelajar dikirim ke luar negeri melalui hibah maupun pinjaman dari Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia (ADB), dan JBIC (Bank Jepang), dengan nilai hibah 600 juta dollar AS selama delapan tahun. Program tersebut tahun 1989 diambil alih Bappenas dan selanjutnya tak jelas lagi kelanjutannya.

LPDP mestinya fokus memberikan bea-siswa pada rentang usia emas. Karena fakta menunjukkan bahwa inovator kelas dunia usianya semakin belia, selepas SMA.  Program bea siswa luar negeri LPDP selama ini hanya fokus untuk program S-2 dan S-3 kurang sesuai dengan daya saing global dan kebutuhan strategi pembangunan.

Masyarakat melihat LPDP kini dalam kondisi quo vadis. Mestinya LPDP mampu menjadi navigator yang bisa membuka jalan bagi anak muda bangsa untuk menatap dunia. Selain navigator juga mesti membantu  lulusan SMA untuk melewati ujian kemampuan berbahasa asing.  Juga membatu dalam proses test untuk memasuki perguruan tinggi terekmuka di luar negeri.

Navigator yang mampu mengarahkan lulusan SMA menuju negara-negara maju yang menyediakan pendidikan tinggi terkemuka. Fungsi lembaga diatas termasuk  memfasilitasi dan membantu mengurus aplikasi visa, aplikasi studinya, workshop dan faktor  kemahiran bahasanya.

Selama ini publik melihat adanya inkonsistensi dari LPDP. Seperti dalam hal daftar perguruan tinggi di LN yang ada di list LPDP untuk program bea siswa S-2 dan S-3. Kenyataannya, mereka yang mendapat Letter of Acceptance (LoA) atau conditional letter dari universitas yang tidak masuk dalam daftar tersebut, tetap lolos seleksi administratif.

Arah dan sasaran LPDP perlu direvisi agar bisa optimal mengarahkan segenap usahanya guna mencetak pemimpin masa depan yang belia dan tersebar di berbagai bidang. Sesuai dengan misinya sebagai pengelolaan dana abadi pendidikan yang bertujuan menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi mendatang.

LPDP perlu meneruskan peran sejarah BJ Habibie yang telah mempersiapkan berbagai wahana industrialisasi dan pusat Iptek serta meletakkan tonggak Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus.

Peran tersebut termasuk melakukan reinventing program pengiriman kembali lulusan SMA/SMK untuk kuliah di luar negeri dengan skema yang sesuai dengan kondisi sekarang. Kebijakan Presiden Joko Widodo memacu pembangunan infrastruktur memerlukan dukungan banyak SDM ahli dibidang teknologi. Sehingga pembangunan infrastruktur bisa terwujud dengan kualitas yang baik dan bisa berlanjut tanpa kendala yang berarti diwaktu mendatang.

Saatnya makna dan esensi Hakteknas yang diperingati setiap tahun bisa memajukaan teknologi sederhana atau tepat guna yang dibutuhkan masyarakat luas.

%d blogger menyukai ini: