Format Pendidikan Karakter

Presiden Joko Widodo mengatakan pendidikan anak sebaiknya tidak hanya diberikan di ruang kelas. Tapi juga bisa dilakukan di luar sekolah dengan hal-hal yang berkaitan dengan jiwa kemuliaan. Penyataan itu disampaikan pada Rakor Pimnas 2017 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Sleman, DIY.

Jokowi meminta guru menanamkan pendidikan karakter. Sebab, pendidikan karakter penting untuk pembentukan etos kerja, kejujuran, integritas, unggul dan memiliki semangat pantang menyerah, serta kerja keras. Presiden Joko Widodo juga menekankan soal perubahan kondisi bangsa di masa depan. Menurutnya, generasi Z akan mengubah peta politik dan ekonomi secara nasional dalam waktu 5-10 tahun ke depan.

Sistem pendidikan nasional mesti diarahkan untuk membentuk karakter anak yang unggul dan sesuai dengan tantangan zaman. Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.

Karakter unggul berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti punya kepercayaan diri, rasional, logis, kritis, analitis, kreatif, inovatif, dan mandiri.

Penerapan kurikulum sebaiknya disertai dengan transformasi pendidikan. Transformasi tersebut kini sangat dipengaruhi oleh kekuatan jaringan N-Fluence atau Net Fluence yang sedang melanda generasi muda. Mereka kesehariannya tidak bisa lepas dari intenet. Jaringan itu kini merevolusi pembelajaran. Dari pembelajaran individual ke pembelajaran kolaboratif.

Perlu program unggulan pemerintah untuk membangun sistem yang mendukung terwujudnya lingkungan pembelajaran generasi Z alias next generation learning environment. Yaitu dengan cara pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) terkini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, administrasi, serta interaksi dan kolaborasi antara guru, siswa, orangtua, komunitas, dan sekolah yang lebih efektif dan murah.

Perkembangan pembelajaran di negara maju diwarnai dengan penerapan Multiuser Virtual Environment (MUVE) yang merupakan berbagai model virtual dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga bermacam perkembangan iptek bisa divirtualisasikan secara menarik. Hal ini sangat menggairahkan para siswa untuk menekuni disiplin ilmu dengan cara yang lebih praktis dan menyenangkan. Ibarat melakukan tamasya ilmu pengetahuan, setiap hari sekolah menjadi hal yang sangat mengasyikan siswa.

Pembanguan karakter bangsa perlu format atau metode yang efektif sehingga bisa diserap dengan baik oleh generasi saat ini. Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pendidikan Penguatan Karakter perlu segera diterbitkan.

Pendidikan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan karakter. Betapa penting faktor pendidikan itu karena mentalitas seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Pendidikan karakter siswa memerlukan proses kreatif dan daya inovatif sesuai dengan kondisi kekinian.

Pembentukan karakter unggul siswa memerlukan waktu belajar yang lebih panjang. Karena para siswa perlu presentasi diri mengenai gagasan dan ide-idenya di dalam kelas. Presentasi dari masing-masing siswa perlu dilakukan agar percaya diri dan lebih memahami pelajaran serta bisa mendorong kreativitas.

Presentasi siswa tentang ide dan karyanya sejak awal tahun 80-an telah menjadi perhatian para guru besar seperti Profesor Andi Hakim Nasution yang setia menjadi dewan juri Lomba Penelitian Ilmiah Remaja yang diselenggarakan oleh Kemendikbud dan LIPI. Bahkan, Menteri Pendidikan seperti Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto hingga Fuad Hasan juga berkenan mengikuti presentasi yang dilakukan oleh para siswa sekolah menengah. Presentasi seperti telah membuka jalan lahirnya generasi unggul yang mampu bersaing secara global.

Di masa depan para guru harus intens membimbing presentasi siswa setelah menyerap pelajaran. Presentasi lebih hebat lagi jika memakai bahasa asing.

Daya saing suatu bangsa ditentukan oleh sejauh mana para pemuda berkreasi dan berinovasi sesuai dengan tren dunia. Seperti yang tergambar dalam kajian lembaga pendidikan terkemuka di Amerika yakni Harvard Business, yang menekankan pentingnya mendorong daya saing pemuda di bidang sistem inovasi dan produksi.

Perlu totalitas untuk membangun ruang kreativitas sekolah. Negeri ini membutuhkan sebanyak banyaknya tokoh muda inovator untuk menuju kejayaan bangsa. Inovasi segala macam disiplin ilmu dan keanekaragaman budaya. Baik inovasi tingkat dunia maupun tingkat lokal yang memiliki arti strategis dalam kehidupan berbangsa.

Sekolah adalah sarana yang tepat untuk menumbuhkan budaya inovasi. Oleh sebab itu, perlu strategi kebudayaan bagi sekolah yang fokus terhadap budaya inovasi. Menumbuhkan budaya inovasi di kalangan siswa jangan hanya bersifat seremonial. Kegiatan inovatif sebaiknya dilakukan oleh siswa dalam bentuk yang bervariasi.

Pada prinsipnya sumber inovasi, baik itu produk atau proses, merupakan proses belajar. Agar siswa mampu melakukan kegiatan inovatif maka harus ada upaya meningkatkan kemampuan ilmu dan teknologinya, yaitu dengan memperkuat kapasitas learning-nya.

Dalam persaingan global yang sangat ketat diperlukan berbagai right brain training untuk menggenjot daya kreativitas siswa. Budaya inovasi dengan titik berat proses kreatif dan inovatif sebaiknya menjadi muatan kurikulum di sekolah.

Saatnya melihat dengan jernih kondisi riil pendidikan di negeri ini. Pemerintah bertekad bahwa hakikat pendidikan untuk mewujudkan peradaban Indonesia yang unggul. Makna pendidikan bukan hanya untuk menyelesaikan atau menjawab persoalan bangsa yang sifatnya sangat teknis dan bersifat kekinian semata. Melainkan pendidikan untuk mewujudkan peradaban unggul dalam ekosistem global.

%d blogger menyukai ini: