PRESS RELEASE Menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2017 Pendidikan Karakter dan Pemajuan Kebudayaan

Pengurus IABIE mengucapkan :
”Selamat Hari Pendidikan Nasional, selamat belajar, dan selamat melampaui cita-cita”

Reformasi pendidikan nasionalyang merupakan program unggulan pemerintah akan dijalankan mulai tahun ajaran baru 2017-2018. Reformasi disertai dengan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Program ini sebaiknya diladasi dengan filosofi kebangsaan yang kokoh dan bersifat paradikmatik global terkait dengan karakter yang bersifat unggul. Bukan gerakan indoktrinasi belaka, tetapi bisa melahirkan esensi karakter yang sesuai dengan semangat jaman.

Hardiknas 2017 kali ini mendapatkan kado yang istimewa berupa pengesahan UU terkait pendidikan dan kebudayaan, yakni UU Pemajuan Kebudayaan. IABIE berharap agar UU ini menjadi leverage kemajuan bangsa. Sesuai dengan filosofi pemikiran Presiden RI ketiga BJ.Habibie bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah bagian dari kebudayaan yang akan menentukan peradaban sebuah bangsa. Dengan demikian aspek kebudayaan menjadi sangat penting untuk dimajukan. Utamanya budaya terkait literasi, budaya inovasi dan budaya lain yang mendorong kemajuan dan memberikan nilai tambah.

Urgensi Pendidikan Karakter
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mencanangkan dimulainya reformasi sekolah. Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) akan diterapkan disetiap sekolah. Bentuk penguatan itu perlu masukan dari para cendekiawan dan kaum intelektual yang memahami berbagai karakter bangsa-bangsa yang telah menggapai kemajuan.

PPK dinyatakan sebagai bentuk revolusi mental yang dikondisikan di sekolah. Kemendikbud instruksikan bahwa sekolah harus direformasi baik manajemen, lingkungan, guru, kepala sekolah, komite sekolah, maupun lingkungan masyarakat.

Kepala sekolah akan diperankan sebagai manajer sekolah yang aktif memikirkan dan mengembangkan kualitas sekolah. Dengan demikian memerlukan nara sumber yang kredibel dan berpengalaman secara global.

Agar revolusi mental tersebut tidak terkurung dalam kotak sempit tetapi merupakan revolusi nilai berkelas dunia, bahkan bisa mengguncang dunia.Karakter adalah watak, perilaku, dan budi pekerti yang menjadi ruh dalam pendidikan. Diperlukan gerakan nasional untuk mensukseskan PPK melalui harmonisasi olah hati (etika), olah rasa (estetika), olah pikir (literasi), dan olahraga (kinestetika). PPK memiliki skema kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dengan melibatkan publik.Pendidikan karakter secara konkrit adalah mengajarkan kepada siswa tentang karakter personal, seperti hidup jujur, memiliki tanggung jawab sosial, berusaha menguasi iptek dan selalu terpacu untuk meraih kemajuan dan unggul diberbagai bidang.

Para siswa cakrawala berpikirnya mesti diperluas dan digugah kesadaran nasionalismenya. Bahwa pada saat ini bangsa Indonesia sangat membutuhkan pahlawan yang mampu membuat terobosan untuk menciptakan nilai tambah dan kesejahteraan rakyat luas. Pahlawan masa depan ide atau inovasinya melesat jauh kedepan. Pahlawan masa depan adalah mereka yang mampu membangkitkan energi kolektif bangsanya kearah kemajuan.

Negeri ini membutuhkan pahlawan inovasi untuk menuju kejayaan bangsa. Inovasi segala macam disiplin ilmu dan keanekaragaman budaya. Baik inovasi tingkat dunia maupun tingkat lokal yang memiliki arti strategis dalam kehidupan berbangsa.
Refleksi UU Pemajuan Kebudayaan
IABIE sebagai kader bangsa dan anak-anak intelektual Prof.BJ.Habibie menyampaikan refleksi terkait kado Hari Pendidikan Nasional 2017 yakni disahkannya UU Pemajuan Kebudayaan. Semangat Undang-undang Pemajuan Kebudayaan yang disahkan 27 April 2017adalah “memajukan kebudayaan” sebagaimana diamanatkan UUD 1945, Pasal 32 Ayat 1.

Aspek kebudayaan masuk dalam sembilan agenda prioritas pemerintahan Presiden Joko Widodo yang tertuang dalam Nawa Cita. Strategi kebudayaan menjadi kunci dalam program pembangunan pemerintahan dengan tajuk Revolusi Mental. Istilah kebudayaan berasal dari bahasa Latin cultura atau colere yang berarti mengolah atau merekayasa.Kebudayaan tidak sekedar seni tradisi. Lebih dari itu, kebudayaan bisa membentuk dan memajukan korporasi dan ketatanegaraan.

Masalah pendidikan, kemiskinan, perekonomian, dan kinerja birokrasi sulit diatasi tanpa strategikebudayaan yang tepat. Rekayasa kebudayaan itu bisa membentuk masyarakat untuk bekerja keras dan makin cerdas. Serta membentuk sikap positip masyarakat. Secara teoritis kebudayaan adalah kumpulan nilai, kepercayaan, perilaku, kebiasaan, dan sikap yang membedakan suatu masyarakat dari yang lainnya.

Kebudayaan mencerminkan perilaku yang dipelajari yang ditularkan dari satu anggota masyarakat kepada yang lainnya. Beberapa unsur kebudayaan ditularkan antar generasi. Kebudayaan suatu masyarakat sangat menentukan ketentuan-ketentuan yang mengatur bagaimana aktivitas bisnis atau perusahaan dijalankan dalam masyarakat tersebut. Pada saat era globalisasi sekarang ini, masalah karakteristik kebudayaan perlu diperhatikan karena mempunyai relevansi dengan keunggulan bisnis global. Sehingga kebudayaan nasional bisa menjadi leverage atau daya ungkit kemajuan bangsa.

Dalam kompetisi global yang sangat keras sekarang ini, pemerintah harus mampu mewarnai budaya perusahaan. Apalagi hingga saat ini banyak perusahaan nasional, bahkan BUMN dan BUMD yang kalah bersaing sepanjang waktu karena tidak bisa membangun budaya perusahaan.
Begitupula etos kerja dan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN)masih belum menggembirakan karena pemahaman terhadap budaya organisasi masih lemah. Partai politik juga belum mampu membangun budaya organisasi dengan benar sehingga rawan konflik dan krisis intelektual.

Terkait dengan leverage diatas, perlu strategi kebudayaan dari pemimpin yang memiliki pemahaman tentang budaya yang membawa keunggulan secara global. Menurut Schein budaya ada dalam tiga tingkat, yakni artifact, espoused values atau nilai-nilai yang didukung dan underlying assumptions atau asumsi yang mendasari. Tiga elemen budaya itulah yang harus direkayasa untuk mewujudkan kemajuan bangsa. Artifact menyentuh semua bidang dan segi kehidupan, termasuk produk,jasa, dan tingkah laku masyarakat.

Rekayasa kebudayaan menjadi hal yang strategis bagi perjalanan bangsa kedepan. Terutama usaha untuk menumbuhkan budaya inovasi sebagai kunci persaingan bangsa kedepan. Oleh sebab itu perlu strategi kebudayaan yang fokus terhadap budaya inovasi.

Membangkitkan budaya inovasi jangan hanya bersifat seremonial. Pada prinsipnya sumber inovasi, baik itu produk atau proses merupakan proses belajar. Agar rakyat mampu melakukan kegiatan inovatif maka harus ada upaya meningkatkan kemampuan ilmu dan teknologinya yaitu dengan memperkuat kapasitas learning-nya. Dengan demikianaliran informasi dan knowledge dari sumber-sumber ilmu dan teknologi ke masyarakat perlu terus menerus difasilitasi lewat sekolah formal maupun pendidikan non formal.

Atas perhatian dan kerjasama antara IABIE dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Jakarta,  1 Mei 2017

 

Ketua Umum IABIE

Bimo Sasongko, BSAE, MSEIE, MBA

 

Sekretaris Jenderal

Irwan Prasetyo

 

Pers-Release-IABIE-Hardiknas-2017-Pendidikan-Karakter-dan-Pemajuan-Kebudayaan-page-001

Pers-Release-IABIE-Hardiknas-2017-Pendidikan-Karakter-dan-Pemajuan-Kebudayaan-page-002Pers-Release-IABIE-Hardiknas-2017-Pendidikan-Karakter-dan-Pemajuan-Kebudayaan-page-003

%d blogger menyukai ini: