MESKI TERBATAS, SDM IPTEK MEMILIKI DAYA SAING TINGGI

Meski terbatas jumlahnya ketimbang negara lainnya, Sumber Daya Manusia (SDM) IPTEK memiliki daya saing tinggi dan mendukung pembangunan IPTEK nasional.

Karena itu, demi kebutuhan peneliti diberbagai bidang di republik ini, pengiriman lulusan SMA berbakat ke luar negeri dan program Sister City mencetak SDM IPTEK harus ditingkatkan dan didukung pemerintah sepenuhnya.

“Indonesia idealnya membutuhkan 200.000 peneliti di berbagai bidang untuk mengejar ketertinggalan kemajuan teknologi dari negara lain. Karena itu, Urgensi Pengiriman Lulusan SMA Berbakat ke Luar Negeri, Program Sister City Mencetak SDM Iptek, Urgensi Lembaga Pengelola Offset dan Consultant and Crowdfunding untuk Teknologi Indonesia harus dilaksanakan pemerintah,” kata Bimo Sasongko, Ketua IABIE kepada wartawan usai audiensi dengan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Selasa (21/3/2017).

Menurut Bimo, Ikatan Alumni Habibie (IABIE) mengusulkan ke Menristek Dikti untuk memulai kembali inisiatif BJ Habibie yang telah berhasil mencetak ribuan tenaga ahli teknologi kelas dunia lewat skema Bea Siswa Luar Negeri (BSLN). Inisiatif tersebut sebaiknya disinergikan dengan program LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang ada pada saat ini.

LPDP, lanjut Presiden Euro Manajement ini, perlu mengakselerasi kebangkitan teknologi di Tanah Air dengan terobosan baru. Terobosan itu antara lain menjaring siswa SMA berbakat mendapatkan kredit beasiswa atau beasiswa murni dari lembaga keuangan atau korporasi dan pemerintah daerah guna melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terkemuka di luar negeri.

“Setiap kabupaten atau kota setidaknya setiap tahun secara rutin bisa mengirimkan minimal 10 siswa berbakat,” ucapnya.

Pengiriman remaja berbakat tersebut, perlu bekerja sama dengan konsultan pendidikan internasional yang bisa membimbing siswa menguasai bahasa asing seperti Bahasa Jerman, Prancis dan Jepang.

IABIE, lanjutnya kembali, memandang pentingnya pembentukan lembaga pengelola sistem Offset terkait berbagai macam belanja ke luar negeri maupun pembangunan berbagai macam infrastruktur. Terutama bagi pembelian jumlah anggaran besar.

“Idealnya lembaga Offset dibentuk Presiden dan harus mampu berkoordiansi lintas kementerian,” kata Bimo.

Sementara Program Sister City Mencetak SDM Iptek, terang Bimo, dilihat IABIE perlu ditingkatkan dengan kelembagaan yang lebih kokoh. Konten kerjasamanya harus relevan dibina kantor Kemenristek Dikti.

“Program Sister City perlu revitalisasi sehingga kegiatannya tidak sekedar monumental dan seremonial belaka. Tetapi lebih relevan dan konkrit dengan kondisi kekinian,” harap Bimo.

Selain itu, sambung Ketua IABIE ini, Pemberdayaan Purnakarya Siswa di Luar Negeri perlu dilakukan demi kemandirian teknologi dan peningkatan daya saing nasional. Kemandirian teknologi sangat erat berhubungan dengan lembaga litbang penghasil teknologi dan industri pengguna teknologi.

“Untuk keperluan tersebut, IABIE akan membantu penyusunan program pemberdayaan purnakaryasiswa di luar negeri dalam ruang lingkup kerjasama hilirisasi teknologi,” tuturnya.

%d blogger menyukai ini: