Press Release Pertemuan antara Menristek Dikti Prof. Mohamad Nasir, Ph.D., Ak. dengan Pengurus IABIE (Ikatan Alumni Program Habibie)

Agenda pertemuan membahas tentang partisipasi dan sinergi positip anggota IABIE untuk pembangunan nasional. Utamanya terkait dengan pengembangan Iptekdan kapasitas inovasi nasional. IABIE sebagai anak intelektual Prof BJ.Habibie (Presiden RI ketiga dan Mantan Menristek RI) dalam pertemuannya mengemukakan berbagai solusi kebangsaan terkait dengan pengembangan dan integrasi Iptek, mencetak SDM Iptek berkelas dunia, dan audit teknologi terkait ketenagakerjaan dan dinamika sosial akibat dampak percepatan pembangunan infrastruktur.

Anggota IABIE tersebar diberbagai lembaga Ristek Nasional, BUMN, Industri nasional dan sebagai diaspora Indonesia di berbagai belahan dunia. Pengurus IABIE melaporkan kepada Menristek Dikti bahwa segenap anggota IABIE sebagai kaum profesional siap untuk bersinergi membenuk jejaring Indonesia Integrateduntuk memajukan Iptek.

Lewat Indonesia Integrated, kompetensiteknolog Indonesia bisa diintegrasikan secara langsung atau melalui perusahaan/organisasi tempat mereka bekerja.Bagi diaspora IABIE ada tagline “Tanpa harus pulang ke Indonesia, di mana pun berada, kami bisa berkarya untuk Indonesia”.

Para teknolog dan profesional di Tanah Air yang lebih menguasai lapangan sebaiknya bersinergi dengan para diaspora di luar negeri untuk melengkapi dengan pengetahuan dan jejaring yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan di Indonesia. Karena diaspora memiliki akses ke sejumlah ilmu yang belum ada di Indonesia. Di lain pihak, diaspora tidak tahu persis apa yang sebenarnya dibutuhkan Indonesia. Sinergi saling melengkapi itulah yang ingin dicapai gerakan Indonesia Integrated yang dicanangkan oleh pengurus IABIE.

IABIE merekomendasikan kepada Menristek agar inisiatif Indonesia Integrated menjadi agenda berkelanjutan agar potensi jejaring para ilmuwan atau teknolog berkelas dunia bisa berdaya guna bagi percepatan pembangunan. Bermacam keahlian bisa lebih disinergikan untuk kepentingan bangsa jika inisiatif diatas bisa segera dikonkritkan.

Urgensi Lembaga Pengelola Offset

IABIE memandang pentingnya pembentukan lembaga untuk mengelola sistem offset terkait dengan berbagai macam belanja ke luar negeri maupun pembangunan berbagai macam infrastruktur. Terutama bagi pembelian dengan jumlah anggaran yang besar.

Definisi Offset secara umum dapat diartikan sebagai mekanisme timbal balik. Kalau kita membeli pesawat terbang senilai x dari negara lain, maka kita meminta timbal balik senilai y dari nilai pembelian tersebut. Ketentuan, jenis dan nilai Y tersebut didetailkan oleh lembaga pengelola offset di negeri ini. Bisa saja jenis offset berupa alih teknologi lewat pengiriman SDM untuk belajar keluar negeri maupun produksi bersama terkait barang yang dibeli.

Lembaga offset sebaiknya diisi oleh para ahli yang mengerti tentang alih teknologi,  konsultan pendidikan internasional dan ahli tentang bisnis dan nilai tambah industri. Lembaga offset harus mengerti betul tujuan ekonomis dari  offset yang bisa memperluas lapangan kerja dan mengoptimalkan devisa keluar negeri. Selanjutnya lembaga offset juga  harus memahami betul tujuan alih teknologi di berbagai tingkatan.

Idealnya lembaga offset dibentuk oleh Presiden dan harus mampu berkoordiansi lintas kementerian. Sehinggaa belanja kementerian dan lembaga negara lain  keluar negeri dengan jumlah nominal tertentu, harus ditempuh dengan mekanisme offset yang sebaik-baiknya. Begitu juga ada kentuan offset tersendiri bagi perusahaan patungan swasta dan pemerintah, atau swasta murni, bagaimana permberlakuan offset yang ideal.

Lembaga offset  harus mampu menjalankan fungsi strategisnya yakni  inventarisasi potensi yang bisa dikembangkan terkait offset.  Kemudian memiliki data base yang akurat terkait perusahaan-perusahaan dalam negri yang mampu menerima offset. Kemudian melakukan monitoring dan pengawasan terhadap pelaksanaan offset serta mengatasi jika ada hambatan di lapangan.

Bentuk offset sebaiknya juga terkait dengan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Skema offset mencakup transfer teknologi, co-production atau produksi bersama di Indonesia untuk komponen dan struktur, serta fasilitas pemeliharaan dan perbaikan. Yang terdiri dari direct offset dan indirect offset. Direct offset merupakan kompensasi yang langsung berhubungan dengan kontrak pembelian. Sedangkan indirect offset atau biasa disebut offset komersial biasanya berbentuk buyback, bantuan pemasaran/pembelian alutsista yang sudah diproduksi oleh negara berkembang tersebut, produksi lisensi, hingga transfer teknologi dengan mendidik SDM.

Urgensi Pengiriman Lulusan SMA Berbakat ke Luar Negeri

Untuk membangkitkan teknologi nasional tidak bisa dengan jalan pintas atau diserahkan begitu saja kepada pasar. IABIE berpendapat bahwa kebangkitan teknologi harus disertai dengan menguatkan tradisi ilmiah atau penguasaan bagi kaum remaja.

Tradisi keilmuwan dan penguasaan Iptek sejak remaja, atau sejak sekolah menengah sangat perlu untuk menemukan siswa-siswa berbakat lalu diberi kesempatan untuk kuliah diperguruan tinggi yang baik, termasuk mengirimkan mereka ke luar negeri untuk belajar di perguruan tinggi terkemuka dan memiliki tradisi ilmiah yang unggul wahana Iptek yang maju.

IABIE mengusulkan kepada Menristek Dikti untuk memulai kembali inisiatif BJ Habibie yang telah berhasil mencetak ribuan tenaga ahli teknologi kelas dunia lewat skema Bea Siswa Luar Negeri (BSLN). Inisiatif tersebut sebaiknya disinergikan dengan program LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan ) pada saat ini.

LPDP perlu mengakselerasi kebangkitan tekonologi di Tanah Air dengan terobosan baru. Terobosan itu antara lain menjaring siswa SMA yang berbakat untuk mendapatkan kredit beasiswa atau beasiswa murni dari lembaga keuangan atau korporasi dan pemerintah daerah guna melanjutkan kuliah di perguruan tinggi terkemuka di luar negeri. Setiap kabupaten atau kota setidaknya setiap tahun secara rutin bisa mengirimkan minimal sepuluh siswa berbakat.

Pengiriman remaja berbakat untuk kuliah di perguruan tinggi di luar negeri perlu bekerja sama dengan konsultan pendidikan internasional yang bisa membimbing siswa untuk menguasai bahasa asing seperti seperti bahasa Jerman, Prancis, Jepang. Karena pengajaan bahasa tesebut kini tidak ada lagi di SMA. Selain itu konsultan pendidikan internasional bisa membantu memberikan materi matrikulasi untuk menyesuaikan materi ajar dan memberikan gambaran tentang budaya dan kondisi sosial dari negara yang akan dituju. Selain itu juga membantu para siswa untuk mendapatlan akomodasi hingga pendampingan bila mana perlu.

Program Sister City Mencetak SDM Iptek

Beberapa Kota/Kabupaten telah melakukan kerjasama internasional. Kerjasama itu khususnya antar pemerintahan kota. IABIE melihat bahwa kerjasasama diatasspektrumnya perlu ditingkatkan dengan kelembagaan yang lebih kokoh dan konten kerjasama yang relevan. Yakni dengan signifikansi program Sister  City dengan aspek pengembangan Iptek yang dibina oleh kantor Kemenristek Dikti.

Program Sister City perlu revitalisasi sehingga kegiatannya tidak sekedar monumental dan seremonial belaka. Tetapi  lebih relevan dan konkrit dengan kondisi kekinian. Tidak bisa dimungkiri, otonomi daerah dan globalisasi telah mendorong peningkatan perhatian dan kapasitas pemerintah daerah untuk membuka jalinan kerjasama yang lebih luas.

Perlu mendorong berkembangnya kerjasama sister city yang bisa dijadikan instrumen bagi kota dan komunitas untuk membantu satu sama lain dalam mengelola dan memenuhi kebutuhan kotanya dengan berbagi sarana pengetahuan, sumber daya manusia, teknologi, dan keahlian.

IABIE berharap agar Kementerian Ristek Dikti napak tilas cara Menristek BJ Habibie yang lalu dalama hal program sister city, salah satunya adalah untuk kota Bandung yang bermitradengan Braunschwieg. Merupakan kerjasama kota yang paling tua di Tanah Air. Selain itu Sister city Bandung dengan Kota Fort Worth di Texas, Amerika Serikat. Latar belakang kerjasama dengan Fort Worth terjadi karena perjanjian kerjasama antara IPTN ( PT Dirgantara Indonesia ) dengan pabrik helicopter BELL.

Salah satu aspek penting terkait dengan revitalisasi Sister City adalah wahana strategis untuk mengembangkan atau mencetak SDM unggul. Sebaiknya pemkot/pemda membuat program pengiriman kaum belia lulusan SMA terbaik di daerahnya untuk diberi beasiswa kuliah di luar negeri dalam konteks sister city. Para lulusan SMA atau sekolah kejuruan terbaik dikirim kuliah ke luar negeri atas biaya pemerintah melalui seleksi secara terbuka.

SDM tersebut nantinya akan membantu kepala daerah untuk mewujudkan visinya. Seperti misalnya visi Kota Bandung Teknopolis yang diproyeksikan menjadi pusat industri elektronika dan perangkat lunak terkemuka,ini tentunya perlu disiapkan SDM unggul sedini mungkin.

Sebenanya usaha untuk menjadikan Bandung sebagai Kota Teknopolis pernah dirintis oleh Menrristek BJ.Habibie. Pada era 70-an sebenarnya BJ Habibie telah menyiapkan wahana untuk pengembangan jenis industri diatas, yakni PT Industri Telekomunikasi Indonesia (PT INTI), Lembaga Elektronika Nasional (LEN), dan berbagai macam laboratorium serta didukung oleh SDM teknologi lulusan luar negeri yang termasuk ikatan dinas.

Kita perlu belajar dari Samsung dalam mengelola dan mengembangkan SDM. Selama lima tahun terakhir Samsung menekankan pentingnya program spesialis regional yang merupakan unsur pokok dalam upaya globalisasi Samsung. Program tersebut meliputi pelatihan SDM dengan wawasan internasional agar memahami situasi di pasar-pasar luar negeri. Pelatihan tersebut dengan cara mengirimkan ribuan karyawan ke berbagai negara untuk belajar dan memahami potensinya.

Aspek Sosioteknologi dan Auditek

IABIE menekankan bahwa pembangunan infrastruktur hendaknya tidak mengabaikan aspek sosioteknologi bagi masyarakat. Serta harus dibarengi dengan proses transformasi dan audit teknologi (Auditek) secara baik. Proyek-proyek infrastruktur dalam skala besar hendaknya menekankan aspek transformasi dan auditek yang bisa meningkatkan kualitas teknologi dan memperluas lapangan kerja. Prosedur auditek bagi produk teknologi asing yang masuk ke Tanah Air harus dilaksanakan secara konsisten untuk menjamin keandalan dan nilai ekonomisnya dibelakang hari.

Hal itu juga dapat menumbuhkan industri lokal serta melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak negatif penerapan teknologi yang tidak ramah lingkungan dan sosial. Selain itu dengan auditek bisa mengoptimalkan SDM teknologi yang pada gilirannya akan memperluas spektrum lapangan kerja.

Pembangunan infrastruktur sebaiknya berbasis sosioteknologi yang merupakan relasi daripada keilmuan sosial (social sciences) dengan teknologi (engineering). Sehingga aspek teknologinya memperhatikan berbagai perspektif.

 Atas perhatian dan kerjasama antara IABIE dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

 

Jakarta,  21Maret 2017

Ketua Umum IABIE                                        

Bimo Joga Sasongko                                       

Sekretaris Jenderal

Irwan Prasetyo

 

%d blogger menyukai ini: