PRESS RELEASE IABIE Sosialisasikan Pesan Kenegarawanan, Pemikiran Strategis dan Poin Kebangsaan BJ Habibie

Press release ini dibuat dalam rangka Audiensi dan Perkenalan Kepengurusan baru IABIE periode 2016 – 2019 bersama dengan Presiden ke-3 RI, Bapak Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie selaku Ketua Dewan Pembina IABIE,  yang diikuti oleh 6 Anggota dewan Kehormatan,7 Anggota dewan Pengawas,124  Anggota Pengurus Pusat,29  Anggota Dewan Pakar, dan 16 Anggota dewan penasehat IABIE yang dilaksanakan pada hari sabtu, 4 Maret 2017, jam 14.00 – 17.00 di Rumah Peradaban Presiden RI ke-3, Jl. Patra Kuningan XIII n0 3-5, Jakarta Selatan, dengan point-point sebagai berikut :

IABIE adalah organisasi profesi anak intelektual Bapak BJ Habibie yang mendapatkan beasiswa untuk belajar di luar negeri dan kemudian juga mendapatkan kesempatan untuk berkiprah dalam pembangunan Indonesia. Seiring berjalannya waktu perlu mensosialisasikan pesan kenegarawanan, pemikiran strategis dan poin-poin kebangsaan dari Presiden RI ketiga Prof BJ Habibie.

Sikap kenegarawan BJ Habibie dalam Proses Demokratisasi

Sikap kenegarawanan BJ Habibie dalam proses demokratisasi di Tanah Air tercermin dalam Pilkada serentak dan sebelumnya juga pada Pilpres 2014. Begitu juga terhadap partai politik yang tengah mencari arah dan menjaga eksistensinya.

BJ Habibie selalu memberikan nasehat kebangsaan dan pemikiran strategis. Seperti nasehat untuk semua Paslon Cagub-Cawagub DKI. Semua diberi perhatian yang sama mengenai bagaimana membangun bangsa dengan menyinergikan tiga unsur utama,  yaitu budaya, agama, dan pengetahuan. Hal itu harus disinergikan menjadi sinergi yang positif. Pesan yang sering diutarakan BJ Habibie untuk para politisi adalah tentang pentingnya meningkatkan produktivitas masyarakat dengan penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya. Semua peserta Pemilu juga dianggap sebagai “anak intelektual” oleh BJ Habibie.

Dengan demikian demokrasi bisa berjalan berlangsung secara sehat, berkepribadian Indonesia dan menjunjung sportifitas dan nilai kejujuran.

Mewujudkan Musim Semi Toleransi dan Kerukunan Nasional

Tak jemu-jemunya BJ Habibie menganjurkan sikap toleransi dan saling menghargai terhadap semua penganut agama, golongan dan suku bangsa. Perjalanan hidup dan dialektika BJ Habibie sejak sekolah menengah hingga menuntut ilmu di Jerman penuh dengan nilai toleransi dan keteguhan iman.

Relevan dengan kondisi sosial keindonesiaan kini, IABIE mendorong terwujudnya musim semi toleransi dan kerukunan nasional. Agar perpecahan politik yang mulai muncul tidak semakin meluas dan bisa disinergikan kembali seluruh komponen bangsa.

Raja Salman dan SDM Iptek Indonesia

Kunjungan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud dari Arab Saudi membuka pintu kerjasama berbagai sektor. Saatnya efektifkan kerjasama kedua negara terkait dengan pengembangan SDM. Apalagi Visi 2030 Arab Saudi juga mengandung transformasi SDM nasional yang mengurangi ketergantungan sektor migas.Saudi Arabia belanja militernya sekitar 10, 4 % dari PDB dan PDB per kapitanya sekitar 17 ribu dollar AS. Belanja tersebut termasuk peringkat atas dunia. Sekedar catatan  AS  4,8 %, Rusia 4,3 % , Korea Selatan 2,9 Persen Malaysia 2,0 % dan  Indonesia 0,89 %. Besarnya belanja militer Arab Saudi dan jumlah alutsista yang sangat banyak tentunya membutuhkan tenaga trampil dan ahli untuk mengoperasikan dan melakukan perawatan berkala. SDM Iptek Indonesia yang merupakan anak didik BJ Habibie dan telah berkecimpung dalam BUMN Strategis dan  industri pertahanan seperti PT DI, PAL, PINDAD, dan lain-lain bisa membantu dan mengisi kebutuhan SDM disana.

SDM Iptek Indonesia bisa dikirim ke Arab Saudi untuk menambah kompetensi dan pengalaman. Aapalagi Kerajaan Arab Saudi dan Indonesia telah resmi meneken perjanjian kerja sama di bidang pertahanan. Kesepakatan itu meliputi kerja sama penelitian dan transfer teknologi di bidang alat utama sistem persenjataan (alutsista), pelatihan pasukankhusus terkait penanganan teror, dan juga kerja sama dalam penanganan bencana.

Saudi yang  memiliki teknologi dan senjata yang canggih juga mengajak Indonesia dalam penelitian dan pengembangan alutsista. Pihak kerajaan juga telah menyempatkan diri untuk melihat sejumlah alutsista TNI yang diproduksi di Indonesia, seperti panser Anoa buatan PT Pindad di Markas Kopassus dan juga pesawat jenis CN-295 yang merupakan kerjasama PT Dirgantara Indonesia dengan Airbus Military.

Mencetak lebih banyak SDM Pengelola Industri

         Saatnya Indonesia memacu industrialisasi manufaktur untuk memenuhi kebutuhan domestik dan ekspor. Sayangnya negeri ini kekurangan tenaga ahli dan terampil untuk berbagai sektor industri. Ketika industri manufakturing memasuki tahap yang lebih bernilai tambah, SDM yang tersedia tidak mampu mengikuti kecepatan perubahan industri. Laporan McKinsey Global Institute tentang Indonesia menyatakan bahwa sebagian besar pemilik industri mengalami kesulitan mendapatkan SDM ahli untuk mengelola industri.

Kajian McKinsey juga menyatakan bahwa potensi Indonesia agar ekonominya mampu tumbuh 6 persen pertahun maka harus mencetak SDM yang memiliki kemampuan yang andal dalam mengelola industri yang bernilai tambah tinggi. SDM tersebut untuk berbagai lini, dari level manajemen hingga tenaga kerja dilapangan yang dididik secara spesifik.

Pada era sekarang ini faktor kegesitan atau agilitas industri merupakan keniscayaan. Untuk mewujudkan kegesitan industri nasional dibutuhkan SDM yang mampu mengembangkan fleksibilitas dan kapabilitas manufaktur.

Memperkuat Pendidikan Vokasional

Perlu sinergi yang detail antar kementerian juga dengan perusahaan yang bisa mewujudkan link and match. Untuk mewujudkan itu perlu kerjasama antara ikatan sekolah kejuruan, dunia usaha atau industri yang diwakili oleh KADIN serta praktisi atau ahli teknologi yang memiliki pengalaman tentang transformasi industri dan teknologi di negara maju. Konsep link and match pernah dirumuskan oleh Wardiman Djojonegoro yang pernah menjadi Mendikbud Kabinet Pembangunan VI. Pada saat ini konsep tersebut masih relevan.

Perspektif link menunjukkan proses. Yang berarti bahwa proses pendidikan selayaknya sesuai dengan kebutuhan pembangunan, sehingga hasilnya pun cocok (match) dengan kebutuhan tersebut.Baik dari segi jumlah, mutu, jenis, kualifikasi maupun waktunya. Sistem pendidikan nasional sejak Indonesia merdeka hingga kini belum mampu memenuhi tuntutan dunia usaha dan industri.

Program vokasional berbasis apprentice adalah kunci suksesnya industrialisasi di negara maju. Sedangkan di Indonesia juga pernah diterapkan sistem Apprentice untuk memenuhi kebutuhan SDM industri dalam durasi yang singkat. BUMN industri strategis yang merupakan wahana transformasi bangsa yang dibentuk oleh BJ Habibie, seperti PT Dirgantara Indonesia (PT DI), PT PAL, PT Krakatau Stel pernah mencetak ribuan teknisi ahli yang direkrut dari lulusan SMA dan SMK menjadi SDM industri yang spesifik dan sesuai dengan kebutuhan.

Penjaringan Siswa SMA Berbakat

Postur Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia tergambar dalam data ketenagakerjaan 2016 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), dimana jumlah angkatan kerja mencapai 127,67 juta orang.  Dari jumlah angkatan kerja tersebut sebesar 47,37 % masih didominasi oleh lulusan SD dan SD ke bawah, berpendidikan SMTP sebesar 18,57 % dan SMTA beserta SMK sebesar 25,09 %. Sedangkan lulusan diploma ke atas (DI, DII, DIII dan Universitas) hanya berjumlah 8,96 %. Komposisi jumlah angkatan kerja diatas tentunya tantangan berat untuk bisa bersaing secara global.

Dengan kondisi postur SDM diatas perlu program penjaringan siswa lulusan SMA yang berbakat dan memiliki prestasi akademis yang bagus untuk diberi kesempatan dan dipacu agar menjadi tenaga ahli atau ilmuwan kelas dunia. Jumlah siswa lulusan SMA berbakat setiap tahun meningkat dan tidak sebanding dengan daya tampung atau kapasitas perguruan tinggi terbaik di Tanah Air. Bahkan untuk prodi tertentu sangat tidak sebanding dengan jumlah lulusan SMA berbakat.

Dengan kondisi tersebut perlu terobosan dengan membuka kesempatan lulusan SMA berbakat untuk belajar ke luar negeri. Agar mampu menembus perguruan tinggi ternama di luar negeri. Mereka perlu diarahkan hingga diberi insentif lewat bea siswa atau kredit mahasiswa. Mereka perlu program matrikulasi, penguasaan bahasa asing beserta aspek budayanya, tangguh menghadapi proses seleksi masuk perguruan tinggi, serta mendapatkan program pendampingan agar lancar memulai studinya di luar negeri.

Keunggulan untuk mencetak SDM unggul dengan mengirimkan ke luar negeri adalah sistem pendidikan di sana yang menekanakan sistem Lab Based Education (LBE) yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi di dalam negeri. Sistem LBE adalah pendidikan yang dikaitkan dengan proyek riset atau tugas akhir di laboratorium canggih.

Ada baiknya napak tilas pencetakan SDM yang dahulu dilakukan oleh BJ.Habibie lewat beasiswa ikatan dinas kuliah di luar negeri untuk menangani transformasi industri dan teknologi berbagai bidang. Pada saat ini ribuan anak intelektual BJ Habibie itu tetap eksis berkarya dan telah menemukan jalan masing-masing untuk mengabdikan kompetensinya untuk bangsa.

Penerima beasiswa ikatan dinas ke luar negeri searah dengan paradigma global brain circulation seperti yang dikemukan oleh Paul Krugman penerima hadiah Nobel bidang Ekonomi. Para penerima beasiswa LN yang dikirim sejak mereka lulus SMA lebih mudah menjadi sosok versatilis. Sosok itu telah menjadikan kompetensi dan pengalaman sewaktu kuliah dan magang kerja di LN sebagai modal penting untuk memecahkan berbagai persoalan bangsa. Hal itu tidak mengherankan karena sistem pendidikan di negara maju bisa menjadi problem solving yang hebat untuk berbagai kehidupan.

Mengatasi Tenaga Kerja Asing dengan Modernisasi BLK

Banjir tenaga kerja asing (TKA) hingga pelosok daerah harus menjadi perhatian serius pemerintah. Perlu antisipasi secara sistemik dan efektif di lapangan. Apalagi postur angkatan kerja nasional pada saat ini sangat riskan dan kurang berdaya saing secara global.

Antisipasi untuk mencegah krisis ketenagakerjaan harus dipersiapkan sedini mungkin. Meningkatnya TKA yang merambah berbagai sektor di negeri ini sebaiknya diatasi dengan langkah yang sistemik untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing SDM atau tenaga kerja lokal.

Para kepala daerah perlu dibantu konsultan pengembangan SDM  dan konsultan pendidikan internasional yang terpadu dengan entitas industri kelas dunia. Hal itu untuk merencanakan portofolio profesi yang harus dikembangkan di daerahnya. Agar ragam profesi kerja tidak ketinggalan jaman.

Dengan demikian para pemuda bisa meraih jenis-jenis profesi yang menjadi kebutuhan dunia dimasa depan. Pemasukan ke kas negara dari hasil dana pengembangan keterampilan ketenagakerjaan (DPKK) selama ini cukup besar di setiap kabupaten/kota.  DPKK diperoleh dari pungutan setiap perusahaan yang diwajibkan membayar 100 dolar Amerika Serikat perbulan per TKA. Dana tersebut sebaiknya dikembalikan untuk program pengembangan Balai Latihan Kerja (BLK).

Hampir semua kota telah memiliki BLK tetapi perlu modernisasi. Materi latihan kerja di BLK mesti disesuaikan dengan perkembangan dunia. Ada baiknya mencontoh solusi ketenagakerjaan di negara maju seperti Jerman, Prancis dan Amerika Serikat, yang mana latihan kerja mengarah kepada pembentukan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan idnsutri dan bisa melahirkan wirausahawan sekaligus inovator. Menurut data statistik 30 persen dari total wirausahawan dan pelaku star-up usaha di Amerika Serikat berusia sekitar 30 tahun. Hal itu terwujud karena keberhasilan pemerintah dalam mengelola angkatan kerja dan memberikan infrastruktur ketenagakerjaan dengan metode dan standar BLK yang baik.

Urgensi Audit Teknologi

Proyek-proyek infrastruktur dalam skala besar seperti proyek ketenagalistrikan, KA cepat, bendungan, bandara internasional  dan proyek infrastruktur lainnya hendaknya menekankan aspek transformasi dan audit teknologi (auditek) yang bisa meningkatkan kualitas alih teknologi sekaligus memperluas lapangan kerja.

Saatnya melakukan auditek untuk proyek-proyek besar dan produk teknologi asing yang masuk ke Indonesia secara konsisten. Hal itu untuk menjamin keandalan dan nilai tambah dikemudian hari. Langkah tersebut juga dapat memperluas lapangan kerja, menumbuhkan industri lokal serta melindungi masyarakat dan lingkungan dari dampak negatif penerapan teknologi yang tidak ramah lingkungan dan sosial.

Dengan auditek bisa mengoptimalkan SDM teknologi yang otomatis akan memperluas ragam profesionalitas. Ketentuan auditek hendaknya sesuai dengan badan yang dibentuk oleh BJ.Habibie yakni Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).  Baik yang bersifat technoware dari aspek teknologi perangkat keras dan lunaknya. Juga mencakup aspek infoware, orgaware, dan humanware. Betapa pentingnya peran auditek dalam meningkatkan daya saing SDM dan industri lokal. Selain itu fungsinya bisa menetukan posisi teknologi pada industri.

Nilai Tambah Bangsa dan Solusi SDM Freeport

Perlu solusi tepat untuk membantu kaum pekerja PTFI yang notabene merupakan SDM pertambangan nasional yang memiliki kompetensi tinggi.Selain solusi ketenagakerjaan juga dibutuhkan solusi untuk menyegarkan kompetensi bagi karyawan serta meneguhkan proses sertifikasi profesi sehingga mereka bisa lebih berdaya saing global.

Seluruh pemangku kepentingan pertambangan di Indonesia berkewajiban mengembangkan SDM yang berdayaya saing global. SDM kelas dunia sangat penting mengingat Indonesia menduduki peringkat enam besar dunia dalam hal kepemilikan bahan-bahan tambang. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), menempatkan Indonesia pada peringkat ke-6 sebagai negara kaya akan sumber daya tambang. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi teratas untuk proyek-proyek Pertambangan baru, diikuti oleh Filipina dan Vietnam.

Nilai industri Pertambangan Indonesia diperkirakan akan mencapai US$ 200 miliar pada 2019. Dengan potensi sebesar ini, kesiapan SDM dan kematangan rencana pembangunan smelter untuk memajukan sektor pertambangan sangat dibutuhkan.

Bagaimanapun juga sektor pertambangan tetap akan menjadi sumber utama devisa Indonesia, dengan melihat potensi sumber daya mineral yang masih luas untuk digarap baik oleh perusahaan lokal maupun asing. Selain usaha dari pihak swasta, dukungan dari pemerintah berupa kemudahan dan keringanan bagi para investor smelter akan menjadi faktor pendukung yang signifikan untuk menciptakan situasi yang kondusif bagi pembangunan smelter nasional.  (*)

Atas perhatian dan kerjasama antara IABIE  dan rekan-rekan jurnalis media massa, baik media cetak maupun elektronik, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Press-Release-IABIE 4 Maret 17-1 Press-Release-IABIE 4 Maret 17-2 Press-Release-IABIE 4 Maret 17-3 Press-Release-IABIE 4 Maret 17-4

%d blogger menyukai ini: