MENGAPA RI KALAH DARI THAILAND

KEKALAHAN Indonesia dalam ajang Piala AFF 2016 dari Thailand masih terasa menyakitkan. Bahkan membuat insan Indonesia putus asa karena selama ini kita selalu dikalahkan Thailand. Thailand mampu lima kali menjadi juara AFF, sedangkan kita hanya runner-up. Kalau kita amati, kekalahan kita dari Thailand di kancah global tidak hanya terjadi di lapangan sepak bola.

Cobalah kita lihat beberapa perbandingan dua negara ini. Dari 11 indikasi perbandingan yang bisa dikaitkan dengan tingkat daya saing ini, angka Indonesia hanya lebih besar di lima indikasi pertama, selebihnya milik Thailand di indikasi yang justru menentukan. Angka produksi dan penjualan mobil, misalnya. Pasarnya lebih besar Indonesia, tetapi kita kalah dalam jumlah produksi. Artinya, Thailand berorientasi ekspor, sedangkan Indonesia lebih hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik.

 

Kalah Gesit Menarik Investor

Lebih-lebih dalam hal kegesitan menarik investor asing, banyak indikasi yang membuktikan ketertinggalan kita dari Negeri Gajah itu. Kita lihat Jepang yang merupakan tujuan ekspor utama dan investor terbanyak di kedua negara tersebut. Sampai dengan dekade 90-an, Indonesia masih di atas Thailand. Tetapi, sejak 2000-an kita telah disalip dan cenderung melebar.

Hal yang sama terjadi pada angka ekspor ke Jepang. Dulu Indonesia berada jauh di atas Thailand dan sampai 2010 kita masih masuk sepuluh negara importer terbesar di Jepang. Tetapi, pada tahun terakhir 2015, kita sudah tidak berada di sepuluh besar, sedangkan Thailand masuk di nomor 8. Lagi-lagi kita disalip Thailand. Karena itu, kalau melihat angka ekspor-impor bilateral kedua negara, sangat wajar kalau angka surplus menjadi milik Thailand.

Faktor Kekalahan dan Harapan ke Depan

Berdasar data-data, sebenanya Indonesia pernah menang dari Thailand hingga 90-an, tetapi dalam perjalanan waktu kemudian mereka telah melampaui kita. Tentu masalahnya sangat kompleks dan tidak mudah disimpulkan.

Menurut penulis, minimal ada tiga faktor kekalahan kita. Pertama, kita lengah dan tidak bisa memahami kekuatan lawan-lawan kita. Gesekan internal juga meningkat pasca dibukanya keran pendirian partai-partai baru dengan bebas dan kelompok-kelompok yang notabene selalu memprioritaskan kelompok sendiri.

Buat orang-orang Indonesia umumnya, mungkin hal itu dianggap dinamika yang wajar karena iklim yang lebih bebas dan demokratis. Tetapi, bagi para pesaing kita, itu adalah kesempatan emas untuk menyalip di tikungan. Pemerintah pasti selalu berkata sudah berusaha maksimal dan kita berkembang baik. Namun, kalau mau melihat lebih objektif, memang benar kita sudah berjalan ke depan, tetapi para tetangga kita sudah berlari.

Faktor kedua, kita kekurangan negosiator/promotor yang mampu ’’menjual’’ Indonesia di kancah global. Para diplomat dan ujung tombak promosi produk-produk Indonesia di luar negeri umumnya dipenuhi mereka yang berpengalaman sebagai administrator dan birokrator. Sedikit sekali yang berpengalaman sebagai profesional bisnis yang tahu apa yang harus dilakukan terhadap para calon pembeli.

Dalam contoh di Jepang, Thailand punya empat kantor cabang Thai Trade Center Japan (

%d blogger menyukai ini: