MENGEMBALIKAN KEJAYAAN EKSPOR RI KE JEPANG

Jepang adalah negara tujuan utama ekspor Indonesia. Berdasarkan data-data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 angka ekspor Indonesia ke Jepang tertinggi (US$18 miliar), diikuti ekspor dari AS (US$16 miliar), kemudian China (US$15 miliar). Angka tersebut termasuk ekspor migas. Untuk komoditas nonmigas, Jepang tetap mitra dagang penting bagi Indonesia dan selalu menduduki urutan tiga tertinggi.

Dari sisi Jepang sendiri, angka impor produk dari Indonesia juga ‘pernah’ tinggi. Misalnya mengacu data-data dari Trade Statistic of Japan, Ministry of Finance, di 1990 angka total impor dari Indonesia pernah menduduki posisi nomor dua (sekitar US$18 miliar) dengan persentase 5,4%. Posisi pertama ditempati oleh Amerika Serikat (22,4%). Saat itu ada harapan besar kepada Indonesia yang diramalkan akan segera masuk ke jajaran NIEs.

Sepuluh tahun berikutnya, yaitu pada 2000 angka impor Indonesia di Jepang turun ke posisi ke-5 (US$17,7 miliar/ 4,3%). Pada 2010 turun lagi ke posisi ke-7 (US$24,8 miliar/ 4,1%), dan di tahun terakhir 2015 sudah tidak masuk ke-10 besar negara importir di Jepang, disalip oleh Malaysia yang naik ke posisi ke-8 (US$26 miliar/3,3%) dan Thailand  di posisi 9 dengan nilai US$25 miliar atau 3,2% dari keseluruhan impor Jepang. Dengan angka perolehan ekspor US$18 miliar saat ini, Indonesia hanya memiliki persentase 2,3% dari seluruh impor Jepang. Artinya, kita sudah kalah bersaing untuk mengekspor produk-produk Indonesia ke Jepang.

Setidaknya ada tiga masalah yang mempengaruhi penurunan tersebut dan perlu dicarikan solusinya, yaitu: (1) perbaikan promosi di Jepang, (2) perbaikan produktivitas di dalam negeri, dan (3) pencarian serta pembinaan produk-produk unggulan daerah agar dapat menembus pasar ekspor.

Tak bisa dipungkiri, negara tetangga kita Malaysia dan Thailand sekarang sangat gesit dan berhasil berpromosi di Jepang. Malaysia memiliki dua instansi yang menjadi ujung tombak, yaitu Malaysian External Trade Development Corporation (Matrade) dan Malaysian Investment Development Authority (MIDA) yang memiliki kantor perwakilan di Tokyo dan Osaka. Sebagai kepanjangan tangan dari Kementrian Perdagangan dan BKPM-nya Malaysia, mereka sangat paham apa yang diinginkan publik Jepang. Mereka mampu berbahasa dan paham budaya Jepang.

Di Malaysia sendiri mereka memiliki gedung khusus tempat memajang produk-produk andalan yang siap ekspor, yaitu Malaysia Export Exhibition Centre (MEEC) dan menarik untuk didatangi oleh para calon buyer dan investor Jepang. Produk-produk yang ditampilkan sudah diseleksi dengan ketat, hanya ada sekitar 400 jenis. Wajar jika Japan Halal Association yang dibentuk di Tokyo pada 2010, selalu berkonsultasi ke Malaysia, untuk impor produk-produk termasuk referensi makanan halal yang mulai meluas di Jepang.

Begitu juga dengan Thailand, di Jepang mereka punya Thai Trade Center (TTC) kepanjangan tangan dari Department of International Trade Promotion, Ministry of Commerce. TTC punya tiga perwakilan, yaitu di Tokyo, Osaka dan Hiroshima. Website dan materi promosi mereka dalam Bahasa Jepang juga. Tidak berlebihan jika Thailand berambisi menjadi pusat produksi Jepang bukan hanya otomotif tetapi juga produk-produk komoditas harian di Asean.

Jepang sendiri juga sangat agresif untuk mendorong para pengusaha kecil-menengah (SME) untuk dapat masuk ke pasar ekspor. Japan External Trade Organization (Jetro) yang merupakan kepanjangan tangan METI memiliki program-program dukungan, mulai dari informasi, seminar, training hingga pendampingan, terutama kepada para pengusaha SME. Semua informasi dalam bentuk brosur, buku dan website juga tersedia lengkap sekali.

PROMOSI INDONESIA

Promosi produk RI di Jepang saat ini melalui Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di KJRI Osaka dan Atase Perdagangan di KBRI Tokyo. Keduanya adalah ujung tombak promosi dan negosiasi produk-produk kita ke Jepang. Namun, jika melihat materi promosi di brosur dan website, sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Jetro. Bahkan sudah tertinggal jauh dengan Matrade dan TTC dan kurang mempertimbangkan keinginan dan keperluan para calon buyer/investor. Di samping itu harga jual lebih mahal dibandingkan negara pesaing, kualitas sering tidak konsisten dan delivery tidak sesuai dengan jadwal.

Jika pemerintah sungguh-sungguh ingin mengembalikan masa kejayaan ekspor Indonesia ke Jepang, seperti pada 1990, banyak hal dapat diperbaiki. Antara lain dengan memperbanyak penjelasan tata cara ekspor ke Jepang kepada para pelaku UMKM dan berbagi info tentang permintaan buyer serta aktif mengikuti pameran dengan seleksi produk yang ketat dan sesuai kebutuhan pasar.

Selain itu, buat website yang informatif dan selalu update. Mengefisienkan fungsi perwakilan di Jepang, termasuk penambahan fungsi display produk serta SDM yang mampu berbahasa dan paham budaya Jepang, mencari calon buyer dan aktif memasarkan produk andalan daerah.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah meningkatkan kerja sama dengan para diaspora/sahabat Jepang pecinta Indonesia karena mereka dapat menjadi duta promosi Indonesia di luar.

Bisa jadi langkah-langkah di atas sudah dipikirkan dan dilakukan oleh pemerintah. Namun, akan lebih baik lagi jika kita saling bergandengan tangan. Baik pemerintah, akademisi, industri/pelaku usaha harus bersinergi dan memberikan kontribusi.

*) Suyoto Rais, Ketua Umum Forum Masyarakat Indonesia Berwawasan Global, Diaspora di Jepang dan anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).

whatsapp-image-2016-12-23-at-8-08-01-am

%d blogger menyukai ini: