MASALAH LANTEN MASIH MEMBELIT PERGURUAN TINGGI

RMOL. Perguruan tinggi mestinya menjadi wahana untuk mencetak pemuda Indonesia menjadi SDM nasional yang unggul berkelas dunia dan berkepribadian tangguh. Namun, pada saat ini sederet masalah laten masih membelit perguruan tinggi, seperti krisis dosen, kasus korupsi dan suap di perguruana tinggi, hingga kebijakan kontroversial untuk mengimpor guru besar untuk mengkatrol peringkat perguruan tinggi di Tanah Air.

“Perlu terobosan untuk membenahi masalah tersebut,” kata Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE), Bimo Joga Sasongko melalui siaran pers yang diterima redaksi.

Bimo memaparkan, mengacu data demografi Indonesia, jumlah pemuda di Indonesia sesuai dengan UU Kepemudaan dengan rentang usia antara 16-30 tahun, yakni sebanyak 61,8 juta orang. Jumlah itu 24,5 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai 252 juta orang (data Badan Pusat Statistik, 2014).

Kondisi demografi pemuda ini harus dikelola dengan baik melalui perguruan tinggi agar nantinya menjadi postur SDM unggulan.

Bimo menyebutkan, setidaknya ada tiga faktor yang perlu dikapitalisasi oleh generasi muda untuk memenangi pertarungan masa depan, sekaligus dalam mewujudkan mimpi Indonesia.

Pertama, kata dia, diperlukan generasi muda yang memiliki kualitas integritas yang tinggi, Kedua, kapasitas keahlian dan intelektual yang cukup mumpuni dan terakhir, karakter kepemimpinan yang peduli dan profesional dibidangnya.

“Demi masa depan pemuda Indonesia, khususnya dalam hal kepribadian, kompetensi dan daya saing maka pemerintah harus segera membereskan masalah laten yang masih bercokol di perguruan tinggi,” tegas Bimo.

Kemudian menyoal kasus suap jabatan di perguruan tinggi, menurutnya, hal ini ironis yang teramat dalam. Suap jabatan di perguruan tinggi akan tali temali dengan kasus-kasus korupsi yang lebih luas.

Tak pelak lagi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo dan juga Ombudsman Republik Indonesia (ORI) menyatakan bahwa sederet PTN di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi terindikasi ada praktik suap dalam pemilihan rektor.

“Pengurus IABIE meminta agar pemerintah segera membersihkan perguruan tinggi khsusunya PTN dari praktik suap-menyuap,” pinta Bimo.

KPK juga sebaiknya terus beraksi mencegah dan memberantas kasus suap dan korupsi di perguruan tinggi.

Terkait kekurangan dosen, kata Bimo, Pengurus IABIE menilai langkah Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Muhamad Nasir untuk mendatangkan guru besar asing ke Indonesia sebaiknya ditinjau ulang atau dipikirkan lebih matang lagi.

“Guru besar impor belum tentu bisa mencetak mahasiswa program doktor Indonesia berkelas dunia,” cetusnya.

Bimo menjabarkan, banyak faktor ekternal yang menyebabkan para doktor di negeri ini yang masih rendah dalam hal publikasi ilmiah secara internasional. Hal ini tentunya tidak bisa diatasi dengan cara instan dengan mengimpor guru besar dari luar negeri.

Ia menyarankan, sebelum impor guru besar,  sebaiknya pemerintah mengatasi dulu defisit dosen dan menata sistem inovasi nasional dan daerah sehingga klop dengan lembaga perguruan tinggi.

IABIE melihat bahwa defisit dosen juga menjadi kendala bagi sistem inovasi nasional. Apalagi Kemristek Dikti bertugas mendorong setiap perguruan tinggi untuk meningkatkan inovasi dan riset. Produk-produk inovasi tersebut tentunya harus bermutu dan relevan dengan kebutuhan masyarakat serta industri.

Di sisi lain, terjadi penurunan minat untuk menjadi tenaga pengajar di perguruan tinggi. Jumlah dosen di Indonesia saat ini sekitar  160 ribu orang. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 5,4 juta orang. Dari 160 ribu dosen itu, hitung Bimo, 30 persen di antaranya masih lulusan strata 1 (S-1), S-2 sebanyak 59 persen, dan S-3 hanya 11 persen. Ironisnya, selama ini belum ada kesinambungan dalam mencukupi jumlah dosen.

Krisis dosen disertai dengan persoalan penyelengaraan perkuliahan berbiaya mahal dan kurang efektif. Untuk itu, jelas dia, perlu solusi teknologi informasi. Solusi itu, menurut Bimo antara lain melalui difusi inovasi online yang dikembangkan menggunakan platform Opencourseware.

“Platform tersebut merupakan inisiatif untuk menyelenggarakan berbagai perkuliahan dan kursus praktis dengan biaya murah,” demikian Bimo terkait refleksi peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88.[wid]

%d blogger menyukai ini: