Simbiosis Industri Film dan Museum

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf menyatakan bahwa masuknya investasi asing menggairahkan industri film nasional. Perkembangan film nasional membutuhkan peran museum dalam proses produksinya. Produk film nasional yang bermutu selama ini sangat terbantu oleh berbagai museum di Tanah Air. Sinergi antara industri film dan pengelola museum adalah simbiosis mutualisme. Jumlah pengunjung bisa meningkat dan museum bisa terpromosikan lebih luas.

Gairahkan industri film nasional meningkat dengan adanya revisi daftar negatif investasi (DNI) untuk industri film. Sangat menguntungkan jika investasi asing dipermudah masuk ke industri perfilman nasional. Investasi asing itu termasuk sektor usaha bioskop. Hal itu terlihat dari kinerja pengelola bioskop Blitz yang mampu membangun delapan bioskop baru tahun ini. Perusahaan itu kian ekspansif setelah mendulang dana segar Rp 650,48 miliar dari hasil penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue. Saatnya pengusaha bioskop melakukan ekspansi ke daerah lantaran masih kurangnya gedung bioskop. Berdasarkan data 2015, hanya 52 kota yang telah memiliki gedung bioskop yang layak dan sesuai dengan kemajuan zaman, dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.

Film nasional sebaiknya menjadi garis depan media promosi seni budaya, destinasi wisata, dan keanekaragaman sumber daya alam yang merupakan aset bangsa yang nilainya tak terhingga. Museum yang merupakan wajah dan pranata kehidupan suatu bangsa dari abad ke abad sebaiknya menjadi wahana utama perfilman nasional. Museum bisa mengaktualisasikan nilai-nilai keindonesiaan yang hebat dan memukau untuk dijadikan konten perfilman nasional.

Salah satu museum yang telah bersinergi dengan industri film adalah Museum Bank Mandiri yang telah mendukung pembuatan film Rudy Habibie. Sebagian lokasi adegan film tersebut diambil dari museum. Sinergi antara museum dengan industri film telah mendatangkan efek sampingan yang sangat menguntungkan kedua belah pihak.

Esensi dan misi museum di Tanah Air yang jumlahnya ribuan sangat klop dengan tema-tema film nasional yang bertajuk “Film Indonesia adalah Kita”. Saatnya film nasional bisa membangkitkan imajinasi dan penggugah produktivitas dan etos kerja bangsa. Film nasional mengedepankan peristiwa budaya, potensi indigenous, serta berbagai aspek yang bisa menumbuhkan industri kreatif.

Keterlibatan insan perfilman dalam pengelolaan museum di negeri ini bisa meningkatkan daya inovatif dalam hal layout objek atau koleksi museum. Begitu juga akan mendorong penyempurnaan sistem informasi terhadap koleksi. Akibatnya, citra museum bisa lebih menarik dan tidak lagi usang.

Adaptif terhadap zaman

Eksistensi museum harus mampu mencuatkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik. Pentingnya mentransformasikan sistem pengelolaan dan SDM museum agar lebih adaptif dengan perkembangan zaman dan kompatibel dengan industri pariwisata global. Sistem pengelolaan museum harus bisa mengemas koleksi sehingga bisa mendongkrak segmentasi pasar, promosi, serta nilai estetika dan ilmiahnya.

Langkah transformasi yang penting disegerakan adalah menyangkut sistem pengelolaan museum yang berbasis konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sebaiknya sistem informasi museum tidak sekadar berbentuk website atau situs internet yang bersifat database ilmiah semata. Tetapi perlu sistem informasi yang cerdas berbasis geospasial dan bisa merasuki jejaring sosial dengan tampilan yang menarik, termasuk pembuatan film tiga dimensi.

Selama ini sudah cukup banyak website yang menyediakan informasi tentang museum seperti bidang arkeologi. Ada yang menyediakan informasi secara gratis tetapi ada juga yang diharuskan menjadi anggota dengan persyaratan tertentu dan dikenai biaya. Konten yang disediakan dapat meliputi objek-objek arkeologi, film, foto, jurnal, peta sitrus, dan lain-lain. Jenis data atau informasi yang ditampilkan dapat berupa teks, suara, video, gambar, maupun gabungan yang lebih dikenal dengan istilah multimedia. Kebanyakan website museum ditampilkan dalam halaman statis. Tapi, agar lebih menarik dan berbobot, harus dibuat halaman yang kontennya dinamis.

Pada saat ini sistem informasi museum yang sangat ideal yang patut dicontoh adalah milik Smithsonian. Kita bisa berselancar dalam situs Smithsonian yang spektrummya sangat luas dan beragam serta disajikan secara menarik. Berbagai peradaban yang pernah ada di bumi, fenomena alam, proses inovasi, semuanya ada dalam koleksi Smithsonian.

Kita bisa napak tilas berbagai peristiwa sejarah dan kreativitas warga dunia yang karyanya telah mengubah dunia. Napak tilas tersebut sangat penting untuk mendorong daya inovasi masyarakat mengenai dialektika para penemu atau inovator tingkat dunia. Semua itu tersaji dalam film dan sistem informasi yang sangat menawan dan mudah diakses. Dari museum aerospace yang menampilkan berbagai pesawat ruang angkasa hingga fenomena gunung berapi di bumi tersaji secara fantastis.

Eksistensi museum Smithsonian American Art Museum mampu mendorong kreativitas praktisi industri film dunia. Museum itu membentangkan objek sejarah lebih dari tiga abad dan merupakan wahana yang sangat ideal untuk menumbuhkan industri kreatif.

Smithsonian juga telah menggunakan aplikasi Google Earth dan kini dibantu dengan Balon Google untuk menunjang misinya. Antara lain merancang Global Volcanism Program yang memanfaatkan Google Earth sebagai sistem informasi gunung berapi di seluruh dunia dengan profil dan keunikannya masing-masing.

Museum Nasional atau Museum Gajah di Jakarta juga telah mengikuti jejak Smithsonian. Hal itu terlihat dalam event Festival Habibie yang diselenggarakan pertengahan Agustus lalu. Festival itu memamerkan benda-benda bersejarah yang terkait dengan Presiden RI ketiga dan mengemukakan karya-karya besar serta inovasi teknologi yang berpengaruh besar dalam perjalanan bangsa.

Sumber : http://analisis.kontan.co.id/news/simbiosis-industri-film-dan-museum
%d blogger menyukai ini: