Ramadan dan Monetisasi Media Lokal

Sepanjang bulan Ramadan hingga Idul Fitri merupakan waktu yang tepat untuk mendongkrak penjualan produk dan jasa. Momentum tersebut selalu dimanfaatkan oleh perusahaan telekomunikasi dengan meningkatkan kapasitas layanan telepon, SMS, dan data (internet) hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Momentum emas sepanjang bulan Ramadan dan Idul fitri di Tanah Air mendapat perhatian besar Google. Perhatian besar Google tersebut tentunya berdasarkan riset yang dilakukan pada 2015 terkait perilaku konsumsi pengguna internet di Indonesia ketika Ramadan.

Pada bulan Ramadan minat masyarakat berbelanja online meningkat hingga 30% dibanding harihari biasa berdasarkan pencarian melalui Google. Ada lima kategori teratas yang mengalami peningkatan volume penelusuran. Lima kategori tersebut adalah travel yang meningkat 30%, pakaian meningkat 29%, barang elektronik meningkat 24%, telekomunikasi meningkat 19%, dan ponsel pintar meningkat 17%.

Selama bulan Ramadan konsumsi video melalui Youtubevia perangkat mobile bisa mencapai 13% lebih tinggi dibanding hari biasa. Konten yang dikonsumsi adalah musik, hiburan, permainan, makanan, kecantikan, dan kesehatan. Peningkatan terjadi dimulai dari seminggu sebelum Ramadan, mencapai puncak seminggu sebelum Lebaran, dan menurun seminggu setelah Lebaran.

Hasil riset Google di atas sebaiknya menjadi masukan penting bagi media lokal agar proses monetisasi bisa terwujud dengan baik. Ramadan mesti dijadikan momentum untuk inovasi sistem nilai berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang memiliki platform kokoh dan merakyat. Hal itu untuk mendapatkan nilai tambah yang besar terhadap sumber daya lokal seperti konten, musik dan periklanan.

Perlu visi baru untuk merancang arsitektur media digital dengan wahana platform yang berbasis ke-Indonesia-an. Rancangan di atas mencakup tren dan pemikiran baru yang memiliki dampak terhadap komunitas dan nilai kemanusiaan. Serta dampak terhadap industri dan bisnis yang bisa direplikasi ke seluruh negeri hingga manca negara.

Selama ini media lokal seperti radio, televisi, koran, dan sarana pariwara usaha, industri pariwisata dan penyelenggaraan pemerintahan daerah mengalami stagnasi. Hal ini disebabkan belum adanya platform yang kokoh dan adaptif dengan zaman. Yang mampu membina hubungan simbiosis yang ideal. Platform ke-Indonesia-an tersebut harus kuat dan bisa membangun plank yang saling melengkapi yakni produk, layanan, atau komunitas yang terintegrasi dengan platform lain.

Perlu platform untuk menuju ekosistem Media 3.0. Ekosistem di mana tidak ada lagi dikotomi antara jenis media, dikotomi antara koran, radio dan televisi. Tepatlah premis content is the king, locality is the queen. Tidak ada pihak yang lebih baik dalam hal mengembangkan konten lokal kecuali masyarakat lokal itu sendiri.

Indonesia butuh inovator yang mampu berimajinasi, berinovasi dan melihat dengan visi baru terkait perkembangan media massa global bertajuk 3.0, yang bisa membuahkan human spirit dan ekonomi berbasis co-creation. Sehingga potensi local Indonesia yang analog dengan zamrud khatulistiwa itu dalam waktu yang tidak terlalu lama sudah terkelola dengan platform Media 3.0.

Sehingga mendatangkan nilai tambah signifikan dan melahirkan sederet nilai-nilai human spirit yang mendunia. Peta industri musik dan radio dunia mulai menunjukkan perubahan kembali. Tren musik dan radio layanan musik dunia sedang mengarah ke layanan streaming musik.

Adapun sebagai model bisnisnya, kebanyakan layanan music streaming menarik iuran bulanan untuk penggunanya apabila ingin mendengarkan dengan bebas iklan. Sebagai contoh Spotify dan Deezer yang memasang tarif US$ 4,99 setiap bulannya untuk layanan premium dan iTunes Radio yang memasang tarif keangggotaan US$ 24,99 per tahun untuk akses music streaming bebas iklan.

Searah dengan hal itu, di Indonesia perlu layanan inovasi dengan bentuk yang hampir mirip tetapi dengan rasa lokal. Ada baiknya mencermati riset yang dilakukan eMarketer terhadap belanja iklan di Indonesia periode 2014-2019. Di beberapa Negara berkembang, total pertumbuhan iklan media terbilang datar.

Sementara itu, pertumbuhan iklan digital menunjukkan tanda-tanda memasuki tahap maturitas atau matang. Namun, di Indonesia, belanja iklan media justru naik menjadi dua digit. Bahkan, pertumbuhan iklan mobile-nya naik tiga digit.

Menurut prediksi eMarketer tentang belanja iklan di berbagai negara, pada tahun 2016, total belanja iklan di Indonesia akan kembali tumbuh sebesar 16% dan naik dua digit sampai tahun 2019. Selain itu, pengiklan di Indonesia akan berinvestasi sekitar US$ 19,58 juta dalam media berbayar. Tren tersebut menjadikan Indonesia sebagai pasar iklan dengan pertumbuhan paling cepat kedua setelah Argentina.

Belanja iklan digital akan tumbuh empat kali lipat lebih cepat dan per tumbuhan iklan digital akan terus melebihi kenaikan media tradisional, dari 7,3% total pasar iklan pada 2015 menjadi 25,1% tahun 2019. Sementara itu, belanja iklan mobileakan naik tiga digit dan akan terus berlanjut hingga tahun 2018.

Untuk mengantisipasi fluktuasi belanja iklan dibutuhkan disruption advertising lokal.  Pesan iklan semestinya merupakan pesan yang efektif. Artinya, pesan yang mampu menggerakkan khalayak agar mereka mengikuti pesan iklan. Sebenarnya iklan adalah cerminan dari kebudayaan dalam masyarakat.

Dalam konteks media baru, kaidah- kaidah advertising telah dijungkir- balikkan. Produk periklanan yang dipasang pada media konvensional, yang dulu dianggap tepat, ternyata dalam media baru justru bertolak belakang. Fenomena tersebut terlihat pada AdSense Google yang mana daya tariknya adalah mampu menyesuaikan iklan dengan konten.

Dengan demikian ada mekanisme menunjukkan iklan hanya kepada orang-orang yang paling relevan dengan iklan tersebut. Misalnya, konten tentang wisata Kota Bandung, maka di sebelah konten tersebut akan muncul sederet iklan terkait seperti hotel, jasa perjalanan dan lain-lain.

Inilah yang dinamakan dengan faktor relevansi. Ironisnya dalam media konvensional faktor relevansi justru menjadi masalah tersendiri. Konklusi dari hal di atas adalah bahwa iklan telah berubah saat bergerak ke media baru (online). Kini faktor relevansi telah menjadi topik bahasan yang hangat bagi para profesional di Eropa dan Amerika.

Melihat tren global dan kondisi sistem konektivitas nasional, perlu membenahi monetisasi media periklanan lokal ataulocal advertising (local ads) supaya bisa terlaksana secara efektif. Dengan media periklanan daerah yang bersifat long tail economic, semua pihak bisa mengiklankan produk dan potensi daerah secara lebih praktis dan mengglobal. Apalagi pada era konvergensi TIK sekarang ini, produk dan jasa yang sangat spesifik dapat diiklankan secara menarik namun murah dan efektif.

Teori long tail menyatakan bahwa dengan melayani pasar minoritas, membuat dan menyediakan produk (low in demand) yang sesuai secara konsisten akan dapat meningkatkan keuntungan yang besar disbanding jika harus bertarung dan hanya terfokus pada produk yang sudah lebih dulu popular. Teori di atas sangat relevan bagi entitas periklanan, khususnya periklanan daerah yang kini tengah memilih media yang tepat.

Hemat Dwi Nuryanto, Chairman & Chief Innovation di Zamrud Technology. Alumni Universitas Paul Sabatier, Toulouse Prancis

%d blogger menyukai ini: