Industri Penyiaran dan Aspek Konektivitas

towerrri

Perkembangan industri penyiaran di Indonesia diharapkan tidak mengalienasi kepentingan yang esensial bagi masyarakat untuk ikut serta menyiarkan segenap aspek dan potensinya. Sifat industri penyiaran yang sangat kapitalistik dan elite politic driven ternyata belum mampu melayani kebutuhan masyarakat. Masyarakat tetap saja merindukan media hiperlokal yang berakar di daerahnya.

Tema yang diusung oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI ) untuk membangun media penyiaran yang mencerdaskan masyarakat dan mampu menjadi komponen konektivitas yang andal perlu segera dikonkritkan. Sudah saatnya KPI bekerja keras melakukan reformulasi kompetisi bisnis penyiaran yang lebih sehat dan berkeadilan. Mengembalikan hakekat penyiaran kepada publik dari kooptasi kapitalisme.

Masyarakat sangat prihatin melihat industri penyiaran, khususnya televisi, telah berganti rupa dan menginvasi nilai-nilai dan produktivitas masyarakat. Tak bisa dimungkiri bahwa industri penyiaran merupakan intersection dari entitas ekonomi dan elite politik. Hal itu berimplikasi sebagai ancaman demokrasi dan aspirasi rakyat. Fenomena seperti ini sudah diingatkan oleh beberapa ilmuwan, di antaranya Noam Chomsky dan Robert McChesney, yang menyatakan bahwa konglomerasi media atau industri penyiaran bisa merusak demokrasi dan nilai-nilai kerakyatan.

Untuk membangun konektivitas nasional dan lokal dibutuhkan kebijakan yang menyetarakan segenap elemen industri penyiaran. Semua elemen, seperti radio, media cetak dan televisi, harus sama-sama ditumbuhkan. Karena masing-masing elemen hingga kini masih memiliki keunggulan komperatif dan potensi alami yang tidak tergeserkan. Radio sebagai elemen industri penyiaran tidak bisa diremehkan begitu saja. Anggapan yang menyatakan bahwa radio is dying karena perkembangan teknologi, ternyata tidak benar. Di Amerika Serikat media radio justru terus bertransformasi, sehingga mampu mengikuti arus konvergensi teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK).

Potensi alami radio di Indonesia sebaiknya dimanfaatkan untuk memperkuat konektivitas bangsa. Hal itu sesuai dengan agenda Badan PBB UNESCO terkait dengan peran media radio yang masih signifikan bagi warga dunia di tengah pesatnya konvergensi TIK. Radio masih berperan penting sebagai wahana transformasi sosial. Oleh sebab itu, UNESCO melihat pentingnya usaha untuk mengembalikan kodrat radio sebagai media sosial yang merakyat dan sarana advertising yang efektif.

Agenda UNESCO yang bertujuan meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya radio serta memfasilitasi akses terhadap informasi khususnya melalui media radio dan meningkatkan hubungan antarlembaga penyiaran sebaiknya diakselerasi di negeri ini. Apalagi media radio selain sebagai industri dan komunitas juga memiliki nilai strategis dalam pengembang potensi hiperlokal atau perdesaan.

Nilai strategis diatas sebaiknya disinkronkan lebih lanjut dengan kebijakan konektivitas nasional yang tertuang dalam MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia, Red), di mana konektivitas tidak hanya fisik (physical connectivity) dan konektivitas kelembagaan (institutional connectivity). Tetapi konektivitas sosial budaya (people-to-people connectivity) yang terdiri dari unsur budaya, potensi ekonomi lokal dan pariwisata bisa diakselerasi dan berkembang.

Pada era globalisasi saat ini media radio mampu meneguhkan konektivitas sosial dan budaya dengan perkembangan teknologi terkini dan pengembangan konten secara efektif. Peran diatas menjadi optimal jika memperhatikan teori bahwa globalisasi dari analisis budaya telah menjungkirbalikkan konsep budaya sebelumnya yang disebut fixed locality. Konsep di mana budaya selalu diidentikkan dengan kekhususan dan lokasi geografisnya yang selalu terikat pada komunitasnya. Kemudian globalisasi membawa budaya jauh dari tempatnya dan kemudian membuatnya menjadi sesuatu yang mobile.

Menurut Clifford Geertz hal di atas disebut sebagai travelling cultures. Budaya tidak lagi memandang tempat asalnya (root), tetapi lebih kepada routes. Routes, diartikan bagaimana globalisasi tidak hanya memobilisasi budaya, tetapi juga mentransformasi lokalitas dari budaya itu sendiri. Budaya lokal menjadi semakin inferior jika tidak memiliki wahana eksistensi dan promosi sesuai dengan pesatnya konvergensi TIK.

Kondisi aktual radio diwarnai dengan keprihatinan jika kita membedah angka belanja periklanan di negeri ini. Penyerapan iklan domestik oleh industri radio kurang dari satu persen. Sementara rata-rata dunia selama lima tahun terakhir mencapai tujuh persen. Masalah di atas sebenarnya bisa diatasi dengan inovasi dan kekuatan kolaboratif media radio.

Pada saat ini di Indonesia terdapat sekitar 1.800 radio yang berizin dengan tipikal radio keluarga, anak muda, dangdut, dan lain-lain, dengan rata-rata 50.000 pendengar per radio. Menurut AC Nielsen, penetrasi media radio di negeri ini sekitar 42 persen, sedangkan benchmark 93 persen. Karakter pendengar per radio adalah loyal. Mereka ingin mendapatkan informasi, hiburan, musik, hingga materi pendidikan sesuai dengan keadaan geografis maupun psikografis.

Perkembangan teknologi radio dunia pada saat ini telah mencapai tahap maturitas, seperti halnya teknologi podcast generasi kelima dan teknologi Pandora. Di sisi lain, media radio di negeri ini masih dilanda dikotomi tentang sistem radio digital dan internet dengan radio konvensional. Dikotomi seperti di atas menjadi kontraproduktif. Mestinya segenap praktisi radio segera melakukan reinventing mencapai tingkatan intelligence radio.

Jumlah radio siaran di Indonesia yang memiliki izin sekitar 1.800 buah. Di antara jumlah itu, yang profitable kurang dari 25 persen. Mayoritas dalam kondisi biaya operasional sangat dominan dan produktivitasnya rendah. Dari aspek teknologi belum online dan belum siap melakukan transformasi menjadi media baru yang berbasis teknologi IP dan terintegrasi dengan social media. Tingkat intelligence yang paling natural adalah menciptakan sistem kolaborasi radio, sehingga terbentuk agregasi konten yang terkategori secara sistematik sehingga menjadi produk kreatif yang bernilai tambah.

Kekuatan kolaborasi media radio telah dikemukakan oleh beberapa pakar dunia. Seperti disampaikan Valerie Geller, Presiden Geller Media International. Dia adalah konsultan internasional untuk radio siaran yang pernah menangani sekitar 500 stasiun radio yang tersebar di 29 negara. Lewat bukunya yang berjudul Creating Powerfull Radio, Geller menawarkan visi praktis bagi media radio dengan cara konsolidasi, restrukturisasi, kolaborasi, dan transformasi teknologi.

Untuk mewujudkan radio collaboration dibutuhkan diseminasi teknologi yang ditujukan kepada entitas radio siaran di seluruh pelosok negeri ini, sehingga terbentuk sel kreatif yang didukung teknologi hasil inventor anak negeri yang mampu berfungsi semacam neurotransmitter untuk mengelola konten radio beserta derivatifnya. Semakin banyak jumlah media radio siaran yang bergabung, apalagi bisa merepresentasikan wilayah Nusantara beserta budaya dan pranata sosialnya, maka eksistensi radio collaboration menjadi luar biasa, karena akan terjadi aliran konten segar dan bermutu yang sangat deras.

Media radio pada saat ini mestinya bisa mewujudkan standardisasi konten pada website radionya serta dapat mengalir ke website kolaborasi secara baik. Aktualisasi, originalitas dan daya kreatif konten pada website radio bisa ditingkatkan melalui pelatihan. Survei menyatakan bahwa kebanyakan pengunjung website ingin menikmati konten yang ditawarkan dengan cara tertentu. Biasanya mereka ingin melihat atau menikmati dengan cara yang paling praktis. Kebanyakan pengunjung menginginkan konten yang bersifat praktis tetapi mudah dipahami untuk mengerti konsep-konsep yang ditawarkan dalam konten. Itulah sebabnya pentingnya gaya jurnalistik radio yang bisa menyederhanakan informasi utama dalam konten. Kesalahan penting yang sering terjadi ketika membuat konten untuk website adalah kegagalan dalam membuat kalimat yang mudah dipahami orang lain.

Jurnalisme radio sebaiknya melakukan repositioning ke arah social web. Hal itu sejalan dengan premis Geller yang menyatakan bahwa situasi pendengar akan kembali kepada hakikatnya. Makna pendengar bukan terletak kepada perangkat yang menyampaikan, tetapi kontenlah yang paling penting. Bahkan dalam risetnya, Geller menunjukkan bahwa radio di masa mendatang akan kembali menempati posisi strategisnya.

Ekosistem global untuk industri radio mulai mengarah kepada optimasi bisnis konten. Untuk itu diperlukan restrukturisasi pengelola industri radio dan pentingnya memperbarui job description and establishment grade system terhadap SDM industri radio, sehingga bisa terbentuk sel-sel kreatif dan produktif yang mampu membangkitkan kembali eksistensi media radio.

%d blogger menyukai ini: