Makna Hari Nusantara

Oleh Hemat Dwi Nuryanto (Alumni IPTN 3 Prancis)

Puncak peringatan Hari Nusantara (HN) 2015 dipusatkan di Gampong Lampulo, Kuta Alam, Banda Aceh, kemarin, 13 Desember. Peringatan statusnya merupakan acara nasional bertaraf global untuk memaknai nilai penting Deklarasi Juanda. Pemilihan Lampulo sebagai pusat peringatan HN, yang telah dilanda tsunami dan kini terdapat situs tsunami rumah boat (perahu). Ini salah satu bukti sejarah dahsyatnya tsunami Minggu, 26 Desember 2004.

HN mau menunjukkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia tidak patah arang menghadapi tsunami. Upaya mewujudkan kesatuan Nusantara tercantum dalam Deklarasi Juanda yang diumumkan 13 Desember 1957 dan menjadi sipirit bangsa sebagai negara kepulauan.

HN telah memacu masyarakat pesisir dan para nelayan untuk bangkit mewujudkan masa depan lebih cerah. HN menegaskan bahwa Indonesia harus mengelola sumber daya kelautan, khususnya perikanan secara arif, serta melibatkan teknologi canggih. Spiritnya sejalan dengan langkah dan program Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Untuk menata dan optimalkan usaha perikanan tangkap perlu ditunjang sistem informasi perikanan yang relevan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Untuk mengatasi kecilnya pendapatan kapal tipe 30 gross ton (GT) yang hanya 300 miliar rupiah pertahun perlu terobosan teknologi. Sangat ironis kapal ukuran 30 GT yang banyak beroperasi di perairan Indonesia dan jumlahnya sekitar 5.000 ternyata rata-rata pendapatan hanya 60 juta rupiah pertahun.

Ini tidak sebanding penggunaan solar bersubsidi dan berbagai insentif. Dengan penggunaan solar subsidi 1,5 hingga 2 ton per hari, sedangkan pendapatan hanya 300 miliar per tahun, menimbulkan kerugian negara cukup besar. Optimasi usaha perikanan tangkap khusunya untuk kapal ukuran 30 GT ke atas membutuhkan sistem pengawasan ketat dan tindakan hukum keras. Selain itu dibutuhkan sistem informasi perikanan yang andal dan mudah diakses nelayan dan penguasaha perikanan tangkap.

Stagnan

Selama ini berbagai produk perikanan tangkap sering dalam kondisi stagnan. Karena nelayan mengalami keterbatasan alat tangkap terutama kapal dan SDM yang memiliki kompetensi teknologi tentang kelautan dan perikanan. Kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang telah menggelontorkan dana triliunan rupiah untuk pengadaan ribuan kapal tangkap untuk nelayan juga tidak optimal. Karena tanpa disertai dengan dukungan sistem informasi yang mampu menggambarkan kondisi real time menyangkut kelautan dan perikanan.

Dibutuhkan solusi yang terintegrasi berupa e-Ocean Fisheries Goverment, berupa sistem informasi kelautan dan perikanan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang memiliki keandalan interoperabilitas sehingga bisa berbagi informasi secara luas. Selain itu berbagai database informasi perikanan global juga dapat diakses. Contoh fisheris global information system (FIGIS) yang menyediakan berbagai informasi seperti statistik perikanan, peta sebaran ikan menurut spesies, isu dan topik perikanan aktual, budidaya, perikanan laut dan teknologi penangkapan.

Data tersebut tersedia kapan pun dan di mana saja diperlukan. Badan PBB FAO juga telah menyediakan data dan informasi penting tentang profil perikanan di berbagai negara. Pada prinsipnya pengembangan e-Ocean Fisheries Goverment merupakan sistem informasi nasional yang berkemampuan inteligensia sehingga pelaksanaan program dan tata kelola sumber daya kelautan dan perikanan akan lebih efektif.

Sistem memiliki konten dari berbagai aspek, dari aspek ekologi, ekonomi kelautan, masalah sosial wilayah pesisir hingga tata kelola pulau-pulau kecil. Sistem harus mudah diakses, diupdate setiap saat, dipantau, sekaligus bisa berfungsi sebagai Sistem Informasi Ekosistem Nasional yang kini telah menjadi isu penting dunia.

E-Ocean Fisheries Government untuk memenuhi informasi yang lengkap tentang kondisi kelautan nasional baik dari sisi sumber daya laut, keadaan perairan, cuaca, kejadian penting di laut, tanda-tanda navigasi laut yang sangat membantu bagi kapal berlayar di lautan kita, dan segala informasi mengenai laut lainnya.

Selain itu berbagai data antardepartemen bisa dipertukarkan secara mudah. Misalnya, data untuk kebutuhan deteksi dan pemberanatsan aktivitas illegal fisheris antara lain berupa track kapal ikan (posisi, kecepatan, heading), data SIKPI yang meliputi identitas pemilik, perusahaan, ukuran kapal, jenis alat tangkap, serta data parameter biologi kelautan.

Pertanyaan klasik letak ikan laut berada dan kapan bisa ditangkap dalam jumlah yang cukup besar perlu dicari solusinya. Apalagi usaha penangkapan dengan mencari daerah habitat ikan yang tidak menentu alias asal-asalan menimbulkan risiko tinggi berupa pemborosan BBM, buang-buang waktu dan tenaga nelayan. Dengan mengetahui area ikan bisa ditangkap dalam jumlah besar tentu akan menghemat.

Salah satu alternatif yang menawarkan solusi terbaik adalah mengombinasikan kemampuan SIG dan penginderaan jauh (inderaja) kelautan. Dengan teknologi inderaja faktor-faktor lingkungan laut yang mempengaruhi distribusi, migrasi, dan kelimpahan ikan dapat diperoleh secara berkala, cepat dan luas.

Faktor-faktor lingkungan tersebut antara lain menyangkut suhu permukaan laut (SST), tingkat konsentrasi klorofil, perbedaan tinggi permukaan laut, arah, kecepatan arus, dan tingkat produktivitas primer. Ikan dengan mobilitas tinggi akan lebih mudah dilacak di suatu area melalui sistem teknologi informasi. Sebab ikan cenderung berkumpul pada kondisi lingkungan tertentu seperti arus pusaran dan daerah front gradient pertemuan dua massa air yang berbeda baik salinitas maupun suhu.

Pengetahuan dasar sebagai basis sistem informasi mengaji antara spesies ikan dan faktor lingkungan sekeliling. Hasilnya jadi indikator oseanografi untuk ikan tertentu. Selanjutnya output indikator oseanografi yang bersesuaian dengan distribusi dan kelimpahan ikan dipetakan dengan teknologi SIG.

Data indikator oseanografi yang cocok untuk ikan perlu diintegrasikan dengan berbagai layer pada SIG karena ikan sangat mungkin merespons bukan hanya pada satu parameter lingkungan, tapi berbagai parameter yang saling berkaitan. Dengan kombinasi SIG, inderaja dan data lapangan akan memberi banyak informasi spasial. Contoh posisi ikan, jaraknya fishing basedan fishing ground yang produktif. Juga musim panen ikan paling efektif.

Setiap spesies ikan mempunyai karakteristik oseanografi kesukaan masing-masing dan cenderung di daerah bisa dipelajari dengan pendekatan teknologi SIG. Database mestinya menjadi isu penting dalam mengembangkan produksi perikanan tangkap di Indonesia. Database tersebut juga sangat penting untuk mengetahui secara persis potensi ikan dan waktu penangkapan.

Penulis Pengurus Ikatan Alumnus Program Beasiswa BJ Habibie

%d blogger menyukai ini: