Monetisasi Media Lokal

OLEH HEMAT DWI NURYANTO

Menghadapi perlambatan ekonomi bangsa Indonesia tidak boleh berhenti inovasi sistem nilai berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang ber-platform kokoh dan merakyat. Hal itu untuk mendapat nilai tambah besar terhadap sumber daya lokal seperti konten, musik, dan periklanan.

Perlu mata baru untuk merancang arsitektur media digital dengan wahana platform yang berbasis keindonesiaan. Ini mencakup tren dan pemikiran baru berdampak terhadap komunitas serta nilai kemanusiaan. Dampak industri dan bisnisnya bisa direplikasi ke seluruh negeri hingga mancanegara.

Selama ini, media lokal seperti radio, televisi, koran, sarana pariwara usaha, industri pariwisata, dan penyelenggaraan pemerintahan daerah stagnan karena belum adanya platform adaptif terhadap zaman yang mampu membina hubungan simbiosis ideal. Platform keindonesiaan tersebut harus kuat dan bisa membangun plank yang saling melengkapi yakni produk, layanan, atau komunitas yang terintegrasi dengan platform lain.

Platform juga bisa mewujudkan keadilan TIK karena dapat mengatasi sepak terjang over the top (OTT) asing yang meraup pendapatan ke ceruk pasar lokal. Ironisnya, OTT selama ini justru leluasa melewati infrastruktur TIK yang dibangun pemerintah dengan dana sangat besar.

Perlu platform untuk menuju ekosistem Media 3.0 yang tidak ada lagi dikotomi media koran, radio, dan televisi. Tepatlah premis ‘content is the king. Locality is the queen.’ Tidak ada pihak yang lebih baik dalam mengembangkan konten lokal, kecuali masyarakat setempat.

Indonesia butuh inovator yang mampu berimajinasi dan melihat dengan mata baru terkait perkembangan media massa global bertajuk 3.0. Ini bisa membuahkan human spirit dan ekonomi berbasis colaboration-creation (co-creation). Sehingga potensi lokal Indonesia dalam waktu tidak terlalu lama sudah terkelola dengan platform Media 3.0 agar mendatangkan nilai tambah signifikan dan human spirit mendunia.

Platform Media 3.0 diwarnai kondisi beyond free atau melewati gratis. Salah satu tren formula bisnis global menawarkan layanan gratis. Chris Anderson dalam buku best seller-nya Free menyebutkan, gratis itu harga radikal mengubah masa depan seperti Facebook dan Google. Keduanya menyediakan layanan gratis untuk pelanggan. Andai pelanggan haraus membayar, mungkin keduanya tidak akan sebesar sekarang.

Konsep beyond free secara ekonomi akan mendatangkan keutungan lebih besar karena psikografis masyarakat selalu menunggu kejutan. Peta industri musik dan radio dunia mulai menunjukkan perubahan kembali. Tren layanan musik dunia mengarah streaming musik. Ini ditandai kemunculan Pandora di Amerika pada awal abad lalu hingga peluncuran Google Play Music All Access dan iTunes Radio yang sekarang bernama Apple Music.

Kebanyakan musik streaming menarik iuran bulanan apabila ingin mendengarkan tanpa iklan. Contoh Spotify dan Deezer yang memasang tarif 4,99 dollar AS setiap bulan untuk layanan premium. iTunes Radio memasang tarif 24,99 dollar AS per tahun untuk akses music streaming bebas iklan.

Rasa Loka

Indonesia perlu layanan inovasi yang mirip dan “rasa lokal.” Inovasi bisnis tersebut dikemas dalam paket misalnya klub radio dan merchant outlet discount. Klub radio merupakan layanan keanggotaan bagi pendengar radio di seluruh Indonesia. Anggotanya bisa mendapatkan akses satu juta lagu legal dari 70 label ternama dari dalam dan luar negri, mendengarkan siaran radio secara streaming melalui internet, mendengarkan siaran tunda, mendapatkan kartu anggota yang sekaligus bisa digunakan sebagai kartu ATM dan rekening bank.

Merchant outlet discount sendiri merupakan sistem periklanan berbasis diskon bagian dari inovasi bisnis untuk mengangkat potensi lokal/hiperlokal yang menjadi mitra radio setempat. Mereka adalah partner-partner radio di kotanya masing-masing yang memiliki layanan di sektor bisnis. Uniknya, para merchant outlet ini akan membayar biaya iklannya belakangan. Iklan ini dibayarkan dalam bentuk potongan harga ke anggota klub radio alias gratis biaya iklan online di radio. Besaran potongan harganya pun sesuai dengan kesepakatan antara radio dan merchant outlet.

Menurut data yang diproyeksikan oleh eMarketer, total belanja iklan media di Indonesia tahun 2015 akan mencapai angka 12,94 miliar dollar AS (sekitar Rp 163 triliun). Nilai tersebut naik 16 % ketimbang belanja iklan di tahun 2014. Meskipun masih menunjukkan tren positif, angka pertumbuhannya sudah mulai melambat tahun ini jika dibandingkan tahun sebelumnya dan diprediksikan akan terus melambat hingga tiga tahun ke depan.

Porsi belanja iklan digital tahun ini diperkirakan akan mencapai 950 juta dollar AS, naik 80%. Ini 7,3% dari total belanja iklan. Iklan digital akan terus membesar hingga mencapai 20 % tahun 2018.

Untuk mengantisipasi fluktuasi belanja iklan dibutuhkan disruption advertising lokal. Istilah advertising berasal dari bahasa Latin yaitu ad-vere yang berarti mengoperkan pikiran dan gagasan kepada pihak lain. Jadi pengertian seperti ini sebenarnya tidak ada ubahnya dengan pengertian komunikasi.

Dalam konteks media baru, kaidah-kaidah advertising telah dijungkirbalikkan. Produk periklanan media konvensional, dulu dianggap tepat, dalam media baru justru bertolak belakang. Fenomena tersebut terlihat pada AdSense Google yang mampu menyesuaikan iklan dengan konten.

Dengan demikian ada mekanisme menunjukkan iklan hanya kepada orang-orang yang paling relevan. Misalnya konten tentang wisata Bandung, maka di sebelah konten tersebut akan muncul sederet iklan terkait hotel, jasa perjalanan, dan lain-lain. Inilah yang dinamakan faktor relevansi.

Ironisnya dalam media konvensional faktor relevansi justru menjadi masalah tersendiri. Konklusinya, iklan telah berubah saat bergerak ke media baru (online). Kini faktor relevansi telah menjadi topik bahasan hangat bagi para profesional di Eropa dan Amerika.

Melihat tren global dan kondisi sistem konektivitas nasional, perlu membenahi media periklanan daerah atau hyper local advertising yang bisa terlaksana secara efektif. Dengan media periklanan daerah bersifat long tail economic, semua pihak bisa mengiklankan produk dan potensi daerah secara lebih praktis serta mengglobal.

Apalagi di era konvergensi TIK sekarang, produk dan jasa yang sangat spesifik dapat diiklankan secara menarik dan murah. Teori long tail menyatakan, dengan melayani pasar minoritas, membuat, dan menyediakan produk secara konsisten akan dapat meningkatkan keuntungan besar daripada harus bertarung dan hanya terfokus pada produk yang sudah popular.

Teori ini sangat relevan bagi entitas periklanan, khususnya daerah yang tengah memilih media yang tepat.

Penulis menjadi pengurus Ikatan Alumni Program Beasiswa Habibie Universitas Paul Sabatier, Toulouse, Prancis

%d blogger menyukai ini: