BPPT Kembangkan Pembangkit Listrik Panas Bumi Untuk Kepulauan

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tengah mengkaji terap teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) skala kecil untuk kawasan kepulauan Indonesia. Menurut Kepala BPPT, Unggul Priyanto, sebenarnya potensi panas bumi di banyak daerah, dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat setempat. “Alih-alih untuk memenuhi kebutuhan listrik dasar,” ungkapnya saat mengikuti Bali Clean Energy Forum 2016, Nusa Dua (11/02).

Energi panas bumi, kata Unggul, sayang jika tidak dimanfaatkan. Menurutnya, potensi geothermal bisa untuk menggantikan energi diesel yang banyak dipakai di pulau-pulau seperti di NTT, NTB atau di Maluku, yang selama ini dirasa kurang memadai.

“Selama ini, pembangkit listrik tenaga panas bumi skala kecil tidak pernah dibangun karena dinilai tidak ekonomis. Padahal apabila dikembangkan, hasilnya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat kepulauan. Apalagi jika semua komponen diproduksi oleh perusahaan nasional,” ungkapnya
Ia mencontohkan beberapa komponen yang mampu diproduksi oleh perusahaan nasional. Misalnya generator pembangkit listrik bisa dibuat oleh PT Pindad, turbinnya oleh PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP) anak perusahaan PT DI, kondensor oleh PT Boma Bisma Indra dan desain oleh BPPT. Dengan demikian Indonesia akan mampu meniadakan berbagai komponen impor.

BPPT bersama dengan Jerman, lanjut Unggul, juga sedang membangun percontohan pemanfaatan uap panas buangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB) yang selama ini tidak dimanfaatkan.

“Uap panas sisa hasil buangan PLTPB di Lahendong, Sulawesi Utara, suhunya mencapai lebih dari 100 derajat Celcius. Uap panas buangan itu masih bisa dipakai lagi untuk membangkitkan tenaga listrik hingga 500 kW. Ini akan jadi percontohan peningkatan kapasitas PLTPB,” katanya.

Menurut Unggul, program pemanfaatan energi alternatif seperti panas bumi, tidak seharusnya tersendat oleh turunnya harga minyak, karena cadangan energi fosil selain tidak bersih juga pasti akan habis.

Sebagai informasi, forum bertema “Bridging the Gap, Promoting Global Partnership” yang dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla itu dihadiri lebih dari 700 orang, termasuk Menteri Energi negara sahabat, perwakilan pemerintah negara sahabat, hingga perwakilan organisasi internasional, sektor publik dan swasta, serta para ahli, praktisi, dan akademisi di bidang energi bersih.

Tujuan forum energi bersih itu adalah untuk menjembatani perbedaan dan memperlihatkan Center of Excellence (CoE) energi bersih kepada komunitas internasional, sebagai pijakan menuju kerja global penyebaran energi bersih. (Humas/HMP)

%d blogger menyukai ini: