IABIE Minta Pemerintah Lebih Berpihak Kepada Teknologi Anak Bangsa

KBRN, Jakarta : Putra-putra Indonesia sebenarnya menghasilkan banyak teknologi yang mumpuni, namun bangsa ini tampaknya lebih suka membeli teknologi dari bangsa asing ketimbang menggunakan teknologi ciptaan anak bangsa.

Demikian benang merah yang mengemuka dalam diskusi dan refleksi kebangsaan menyambut 70 tahun Indonesia merdeka yang degelar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) di Jakarta, Senin (17/8/2015) petang. Kegiatan ini sekaligus mengenang kiprah almarhum Prof Zuhal, mantan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) di era Presiden BJ Habibie yang tutup usia pada Sabtu (15/8/2015) lalu.

Sekretaris Jenderal IABIE, Bimo Sasongko mengatakan, di usianya yang ke-70 tahun ini, kita ingin ada kemandirian teknologi di Indonesia. Apalagi bangsa ini sedang menuju era bersejarah yakni Masyarakat Ekonomi ASEAN.

“Janganlagi kita mengagung-agungkan teknologi bangsa asing. Teknologi ciptaan anak bangsa harus maju dalam inovasi dan teknologi serta mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” tegasnya.

Bimo mempertanyakan, berapa banyak rakyat Indonesia yang menggunakan produk bangsa sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pakaian, sepatu, arlogi, smartphone hingga kendaraan yang digunakan setiap harinya, kebanyakan merupakan produk luar negeri.

Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang seolah-olah kurang menghargai produk yang diciptakan oleh putra-putra terbaiknya.

“Coba lihat, kita punya PT INKA, tapi kenapa pemerintah membeli gerbong bekas dari Jepang? Kita juga punya PT Dirgantara Indonesia yang telah menghasilkan pesawat N250, tetapi industri penerbangan dalam negeri malah memilih pesawat ATR dari Prancis, bahkan MA 60 buatan China untuk melayani transportasi udara di Tanah Air? Padahal negara-negara sahabat justru seperti Thailand dan Filipina justru membeli pesawat dari PT DI,” papar Bimo.

Untuk itu, ke depan ia berharap keberpihakan dari pemerintah dalam menghargai inovasi yang telah dihasilkan oleh putra-putra terbaik Indonesia, sekaligus mempertegas kemandirian bangsa di bidang teknologi.

Sementara itu, salah seorang pengurus IABIE, Dwi Septya berharap teknologi anak bangsa bisa menjadi raja di negerinya sendiri. Demi tujuan tersebut, alumni Iabie yang berjumlah sekitar 3.000 orang berusaha membangun link antar instansi.

“Hal yang paling beratt di Indonesia adalah mencari pejuang. Membeli produk Indonesia merupakan salah satu bentuk perjuangan,” ujarnya.

Apalagi, menurutnya, IABIE banyak memiliki potensi. Para alumninya yang tersebar di lembaga swasta maupun pemerintahan, bisa menjalin hubungan atau bersinergi untuk memajukan negeri ini. (Heri.F/HF)

%d blogger menyukai ini: