IABIE Dorong Beasiswa Strata Satu Ke Luar Negeri

Jakarta – Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) berharap pemerintah dapat menghidupkan kembali program beasiswa pendidikan sarjana strata satu (S1) ke luar negeri. Langkah ini dipandang strategis untuk mencetak sumber daya manusia yang mumpuni.

Ketua Presidium IABIE Yudi Adityawarman menyatakan, program beasiswa S1 ke luar negeri memiliki nilai lebih. Orang-orang penting di negeri ini seperti proklamator Soekarno-Hatta S1 ke luar negeri. Sekolah ke luar negeri itu membangun pola pikir (mind set).

“Beasiswa untuk S2 dan S3 banyak, tetapi yang S1 belum optimal,” katanya alumni program Habibie yang menimba ilmu di Amerika ini, di Jakarta, Sabtu (25/4).

Senada dengan itu, anggota presidium IABIE Arif Budhi mengatakan ruang untuk beasiswa S1 ke luar negeri dinilai penting. Di samping itu, berpikir tentang pemanfaatannya juga penting.

Ia mencontohkan jika berkuliah S1 ke Jepang, jauh lebih mudah dan efektif mempelajari bahasa Jepang karena dipelajari dari dasar dibanding langsung menimba ilmu S2 dan S3.

Sementara itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1993-1998 Prof Dr Ing Wardiman Djojonegoro memandang keinginan adanya beasiswa S1 ke luar negeri perlu dikaji serius.

Menurutnya saat ini sudah banyak yang memberi beasiswa S1 di hampir semua kementerian dan syaratnya pun lebih mudah dibandingkan dahulu.

“Semua beasiswa perlu, ke luar negeri juga perlu yang penting orangnya pintar. Namun bagaimana pemanfaatan dari sumber daya manusia yang ada, terutama lapangan kerja di Indonesia,” ucap pengelola program beasiswa Habibie tahun 1982-1996 ini.

Sejak tahun 1950 pemerintah Indonesia mengirimkan putra-putri terbaiknya untuk menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Di tahun 1980-1990 pemerintah Republik Indonesia dengan inisiatif Prof DR Ing BJ Habibie mengembangkan program beasiswa sarjana strata satu, strata dua dan tiga ke luar negeri yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia telah menunjukkan hasil dan kontribusi yang sangat luar biasa dalam pembangunan di Indonesia.

Melalui program ini, hampir 2500 lulusan sarjana S1 di Indonesia dapat menempuh pendidikan master dan doktor di luar negeri. Selain itu sekitar 1500 siswa terbaik di Indonesia (tamatan SMA) mendapat kesempatan belajar di sembilan negara yakni Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Australia, Austria dan Kanada.

Ari Supriyanti Rikin/FER

Sumber : Suara Pembaruan

%d blogger menyukai ini: