BPPT: Virus ZIKA, Transmisinya Mirip Demam Berdarah

Oleh Eniya Listiani Dewi
 
Fenomena Virus Zika secara global mendapat sorotan khusus dari Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT, Eniya L. Dewi. Menurutnya saat ini yang perlu diperhatikan bahwa virus ini cara transmisinya mirip dengan demam berdarah, karena disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti. “Maka yang perlu dihindari adalah gigitan nyamuk yang biasanya terjadi pada siang hari,” terang Eniya melalui surel, (3/1).
Menurutnya, Virus Zika telah ditemukan sejak 1947 dengan teridentifikasinya virus pada hewan Monyet Rhesus di Negara Uganda. Lalu berkembang dan ditemukan telah menginfeksi manusia pada tahun 1952 di Uganda dan Tanzania. Di Indonesia sendiri, terang Eniya, merujuk pada Tedjo Sasmono dari Lembaga Eijkman, pernah ditemukan satu kasus infeksi teridentifikasi virus Zika di Jambi pada 2014-2015.
“Saat itu, pada awalnya penelitian untuk pengambilan sampel virus demam berdarah karena gejalanya sama. Namun setelah diuji di laboratorium hasilnya negatif demam berdarah. “Dari hasil laboratorium menggunakan PCR tersebut untuk identifikasi jenis virus lain, ternyata ada kemiripan genesis yang tinggi hingga 99.24% dengan virus Zika,” tutur Eniya.
Sementara, menurut WHO, pada wabah tahun 2013 dan 2015 di Brazil dan Polinesia memang dikhawatirkan terdapat komplikasi yang bersifat neurologis dan autoimmun. Sehingga, sambung Eniya, lebih tersebar gejalanya dibandingkan identifikasi yang pertama di Uganda.
“Jika kemudian ada informasi bahwa pada lokasi yang sama (Uganda) juga ditemukan kasus bayi dengan microcephaly (ukuran kepala bayi lebih kecil dan ada kemungkinan perkembangan otak terganggu), bukan berarti bahwa ada hubungannya antara microcephaly dan Zika , karena hal ini menurut WHO masih belum teridentifikasi secara jelas,” jelasnya.
Ditambahkan Eniya, WHO juga menjelaskan bahwa untuk diagnosis infeksi Zika adalah berdasarkan reaksi PCR (amplifikasi material genetik virus), atau menggunakan isolasi virus dari darah. Jika memakai metode serologi (pengujian dalam serum untuk mengetahui apakah ada antibodi dalam darah), akan sulit membedakan antara virus demam berdarah, virus west nile (virus dari daerah tropis), atau virus yellow fever (demam kuning yang banyak di Amerika Latin).
“Masa inkubasi atau gejala awal dari Virus Zika mirip dengan demam berdarah. Sebagaimana penyakit lain yang disebabkan virus, seperti demam berdarah atau flu, sampai saat ini belum ada obat yang benar-benar mujarab dan efektif. Bisa dikatakan belum ada vaksin atau obatnya. Dan karena disebabkan oleh virus, yang mampu menangkalnya adalah daya tahan tubuh kita sendiri. Sehingga saat ini yang bisa disarankan adalah cara penanganan yang direkomendasi dari CDC (Center for Disease Control) Amerika, yaitu dengan istirahat, banyak minum, dan mengkonsumsi obat demam serta obat penghilang rasa sakit pada persendian,” paparnya.
Ia juga menambahkan, karena cara transmisinya mirip dengan demam berdarah, karena disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, maka yang perlu dihindari adalah gigitan nyamuk yang biasanya terjadi pada siang hari.
Mengenai kemunculan kembali Virus Zika, sampai kini belum diketahui. “Kita menunggu informasi dari Kemenkes,” ujarnya. Eniya kemudian menyebut untuk kasus demam berdarah, di BPPT dikembangkan diagnostik kit untuk mendeteksi demam berdarah dan juga mengembangkan vaksin berbasis antigen NS3 sebagai alternatif. Diharapkan kedepan penyakit tropis ada vaksin sebagai pencegahnya. Apapun itu, jagalah lingkungan anda dari nyamuk,” pungkas Eniya. (tab/Humas/HMP).
%d blogger menyukai ini: