IABIE Ingin Bantu Pemkot Bekasi Kelola Sampah

Bekasi, InfoPublik – Wakil Walikota Bekasi H Ahmad Syaikhu kembali menerima kunjungan beberapa perwakilan dari Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) dan Prof Shoda dari Institute of Technology Jepang beserta rombongan, di ruang kerjanya,  Senin, (3/2).

IABIE merupakan kumpulan alumni program Habibie yang diarahkan membantu pemangku penggerak pembangunan di Indonesia untuk  mengelola  pembangunan agar semakin produktif, unggul dan  berdaya saing, khususnya dalam bidang pengetahuan dan teknologi.

Diharapkan para alumni yang mempunyai hubungan baik dengan perusahaan dan negara maju ini, dapat mempercepat bangsa Indonesia menjadi negara yang memiliki industri teknologi maju.  Sekarang, jumlah alumni yang ada saat ini mencapai sekitar 4.000 orang, dan sepertiganya berada di luar negeri.

Pada audiensi yang lalu,  IABIE dengan Pemerintah Kota Bekasi belum  menentukan kegiatan apa yang dapat dikerjasamakan untuk membangun masyarakat Bekasi.  Dan setelah sedikit melihat pembangunan di Kota Bekasi, mereka mulai menentukan arahnya untuk membantu pemerintah terkait sistem pengelolaan sampah di Kota Bekasi.

Sistem pemanfaatan teknologi pengelolaan sampah yang ditawarkan IABIE dan perusahaan Jepang  ini, diharapkan mampu mengurangi volume sampah mulai dari hulunya sehingga yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumur Batu dapat berkurang. Kondisi TPA tersebut sekarang sudah melebihi kapasitasnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kebersihan Kota Bekasi, volume sampah yang dihasilkan masyarakat Kota Bekasi rata-rata 6.000 meter kubik atau sekitar 1.500 ton tiap harinya. Jumlah tersebut pun baru sekitar 45 persen yang terangkut ke TPA, sisanya masih berada di lingkungan masyarakat.

Wakil Walikota Bekasi H Ahmad Syaikhu saat awal audiensi mengatakan pemerintah juga telah menggalakkan program bank sampah dengan mengedepankan sistem pemilahan, pencacahan, pendaurulangan, dan pengomposan dan tersebar di 80 titik di Kota Bekasi berbasis partisipasi relawan dan warga masyarakat Bekasi.

“Pemerintah telah mencanangkan program bank sampah ini untuk mengurangi secara drastis volume sampah yang terangkut ke TPA Sumur Batu. Dan program ini sudah mulai berjalan,” ucapnya.

Dikatakannya pemerintah juga membuka diri kepada berbagai pihak yang ingin membantu pemerintah mengatasi permasalahan yang ada saat ini. Ia pun setuju sampah harus sudah berkurang sejak dari sumbernya atau dari hulu.

“Akan tetapi kerjasama ini perlu didiskusikan dan direncanakan lebih matang agar kedepan dapat berjalan dengan baik,” ucapnya saat didampingi Asiten Pemerintahan Jumhana Lutfi, Kabag Kejasama Investasi Kariman dan Kabid Pengendalian dan Evaluasi Bappeda Kota Bekasi Latief.

Sementara itu, Prof Shoda dari  Institute of Technology Jepang mengatakan sistem pengelolaan sampah di Indonesia dan di Jepang sangat berbeda.

Di Jepang,i pengelolaan sampah dilakukan seluruhnya dengan memanfaatkan teknologi. Namun di Indonesia pemanfaatan teknologi  disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya termasuk yang telah dilakukan pihaknya bekerjasama dengan pemerintah Kota Surabaya.

“Tidak semua teknologi mesin, masih menggunakan tenaga manusia untuk memilah dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja,” ucap Prof Shoda.

Ia melanjutkan Surabaya dan Kota Bekasi merupakan kota besar dan berbanding lurus dengan  volume sampah yang dihasilkan. Surabaya sekitar 1.200 meter kubik per hari sedangkan Kota Bekasi 1.500 kubik perhari.

Seperti yang dilakukan pihaknya di Surabaya, pada tahap awal, mereka membuat satu Depo Super Sutorejo. Tempat pemilahan sampah tersebut  setidaknya mencakup dua kelurahan  hingga 12 ton sampah perhari.

Depo pemilahan sampah seluas 1.200 meter persegi  mengoperasikan  beberapa alat pemilahan, pencacahan, pengepresan dan pengomposan sampah.

Di depo tersebut, pemilahan dilakukan oleh 30 orang petugas yang dipekerjakan dan berasal dari pemulung TPA sekitar. Tidak murni teknologi  masih menggunakan tenaga manusia, dan kini telah baik diterapkan di Surabaya.

“Kondisi di dua Kota ini tidak jauh berbeda. Dan saya yakin  sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Surabaya mulai 2012 lalu,  dapat diterapkan juga di Kota Bekasi. Surabaya telah berhasil mengurangi jumlah sampah yang terangkut ke TPA sebesar 70 persen,” tambahnya. (MC Bekasi/goeng/toeb)

%d blogger menyukai ini: