MENGGAGAS SEKOLAH TINGGI ILMU RUMAHTANGGA

Penulis : Fahmi Amhar
Sumber : http://www.radarbogor.id/2019/03/10/epaper-radar-bogor-edisi-10-maret-2019/
Tanggal : 10/03/2019

MENGGAGAS SEKOLAH TINGGI ILMU RUMAHTANGGA

Prof. Dr. Fahmi Amhar
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)

Tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Women’s Day (Hari Perempuan Dunia). Di Indonesia, hari tersebut, di samping Hari Kartini dan Hari Ibu, sering dijadikan momentum untuk memikirkan nasib perempuan.

Pekerjaan perempuan terbanyak secara resmi (muncul di KTP) adalah “ibu rumah tangga”. Sayangnya belum ada sekolah yang mendidik perempuan menjadi calon Ibu Rumah Tangga profesional.

Ini karena ibu rumah tangga dipandang bukan profesi. Tak ada kontrak kerjanya, gajinya, asosiasinya maupun kode etiknya. Menjadi ibu dianggap profesi yang “siapa saja bisa”, walaupun terpaksa atau sambil lalu.

Bukan berarti mereka tidak terdidik. Banyak ibu rumah tangga yang sarjana, magister, atau bahkan doktor. Mereka akhirnya sibuk membesarkan anak-anaknya, karena memandang itu adalah assetnya yang paling berharga, kebahagiaannya di dunia dan akherat.

Dari sisi perencanaan nasional, negara mengalami ineffisiensi. Bagi yang menamatkan S1, S2, S3 di sekolah negeri, apalagi berbeasiswa, negara telah berinvestasi pada mereka melalui APBN. Namun rakyat tak mendapatkan hasilnya. Lebih dari separuh perempuan sarjana tidak berkarier di bidang ilmu yang ditempuhnya, demi kebahagiaan keluarganya.

Memang tak seluruhnya salah. Kita apresiasi, bahwa perempuan Indonesia sudah sama cerdasnya dengan laki-laki. Bahkan ada indikasi dari beberapa seleksi CPNS, skor yang diraih perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Beberapa instansi yang jenis pekerjaannya banyak di lapangan dan bertabiat “keras” menjadi kebingungan ketika CPNS yang diterima lebih banyak perempuan. Setidaknya, ketika mereka hamil dan punya bayi, tentu tidak fleksibel lagi untuk dikirim ke lapangan.

Perempuan punya hak mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Dan mereka juga punya hak untuk memilih hidup berbahagia dalam keluarga yang berkualitas. Karena itu, muncul gagasan, tidakkah lebih utama bila dua hal ini disinergikan. Pemerintah bisa membangun “Sekolah Tinggi Ilmu Rumah Tangga” (STIR) di tiap daerah berupa community college.

Harus ditegaskan bahwa ini Sekolah Tinggi Ilmu Rumah Tangga, bukan Sekolah Tinggi Ibu Rumah Tangga! Sekolah ini juga bukan seperti SKKA (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Atas) atau SMK yang memiliki jurusan boga, busana, kosmetika atau perhotelan. Visi SMK hanya menyiapkan tenaga untuk industri kuliner, fashion, salon dan perhotelan.

Sedang STIR lebih dari itu. Mereka akan menjadi sarjana dengan banyak keahlian dan wawasan yang harus dimiliki seorang Ibu Rumah Tangga.

Sekedar imajinasi, kurikulum sebuah STIR bisa seperti berikut ini.

Mata Kuliah Umum: (1) Agama - bagi muslim, mereka belajar fiqih keluarga, mahram, nikah, nasab, hingga seputar fiqih politik perempuan; (2) hukum terkait anak, perempuan, kesehatan reproduksi, hingga KDRT; (3) Bahasa Inggris seputar rumah tangga.

Mata Kuliah Keahlian, meliputi: (1) Teknologi di rumah; (2) Desain interior & exterior rumah; (3) Gizi dan Kuliner; (4). Fashion; (5). Kesehatan dan kecantikan; (6) Deteksi dini penyakit; (7) Olahraga & Rekreasi keluarga; (8) Cerdas finansial di rumah; (9) Bisnis dari rumah; (10) Bertani di lahan sempit; (11) Parenting; (12) Psikologi keluarga; (13) Merawat pasien & lansia; (14) Kehamilan dan menyusui; (15) Literasi & Media; (16) Transportasi keluarga; (17) Pengetahuan Belanja; (18) Manajemen acara keluarga; (19) Kebencanaan; (20) Beladiri untuk keluarga.

Karena kita hidup bermasyarakat, perlulah ada Mata Kuliah semisal: Sosiologi Bertetangga; Kontribusi wanita di masyarakat; hingga Politik ramah anak, perempuan dan keluarga.

Ternyata memang banyak ilmu yang harus dimiliki para ibu rumah tangga di awal era industri 4.0 ini. Jadi pantas mereka nanti diberi gelar akademis "Sarjana Ilmu Rumah-tangga", bisa disingkat “S.IR”, yang kalau diucapkan jadi “Sir” - mirip-mirip gelar bangsawan Inggris.

Tentu saja, yang boleh belajar di STIR ini tidak hanya perempuan. Laki-lakipun boleh saja belajar di sana. Kenyataan, saat ini juga ada laki-laki yang “jaga rumah”, karena kebetulan memiliki istri yang hebat yang lebih dibutuhkan negara misalnya sebagai Direktur Utama BUMN atau bahkan sebagai Menteri. Merekapun mengalami masalah, karena di KTP hanya malu-malu menulis status “Wiraswasta”, padahal mengurus rumah tangga.

Ilmu yang mereka pelajari pasti bermanfaat bagi hidup mereka dan keluarganya. Mereka tidak akan “menganggur”. Kalaupun mereka belum beruntung bertemu pasangan untuk membangun rumah tangga, mereka dapat bekerja di orang lain, atau bahkan ke luar negeri, namun sebagai tenaga terdidik dengan posisi tawar yang jelas, karena mereka adalah “Sir”.

(Radar Bogor 10 Maret 2019)