Habibie Mempersiapkan SDM Unggul Untuk Indonesia

Penulis : Bimo Sasongko
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
Tanggal : 12/09/2019

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Bimo Joga Sasongko, Ketua Umum Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE)

Presiden ketiga RI BJ Habibie wafat pada Rabu (11/9), pukul 18.05, di RSPAD Gatot Soebroto. Pemerintah menyatakan berkabung nasional selama tiga hari, dimulai sejak hari ini hingga Sabtu (14/9) mendatang. Pemerintah dan pihak ahli waris berkoordinasi tentang prosesi pemakaman BJ Habibie yang direncanakan berlangsung di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Salah satu legasi BJ Habibie yang sangat penting bagi kelangsungan bangsa Indonesia adalah pemikiran beliau terkait terobosan untuk membentuk SDM bangsa yang terbarukan. SDM yang mampu mengendalikan semangat zaman dan bersaing dalam menciptakan nilai tambah di segala bidang, yakni SDM yang mumpuni dalam bidang iptek dan proses inovasi.

SDM terbarukan, menurut presiden ketiga RI BJ Habibie, memiliki daya kreatif dan inovasi yang lebih unggul dari generasi sebelumnya. Keniscayaan pertumbuhan ekonomi dunia dan masalah krusial kemasyarakatan membutuhkan bermacam inovasi sebagai solusinya.

Spirit kebangkitan teknologi nasional adalah satu tarikan nafas BJ Habibie bersama rakyat untuk memajukan Indonesia. Sepanjang hayatnya, BJ Habibie terus berpikir bagaimana mewujudkan transformasi budaya, politik, teknologi, dan industri untuk bangsanya.

Tak henti-hentinya BJ Habibie berpesan agar bangsa Indonesia mesti pandai mencari terobosan guna meningkatkan nilai tambah produk nasional dan mencari alternatif pasar baru. Presiden ketiga ini telah merekomendasikan pentingnya membenahi secara detail nilai tambah aneka produk nasional. Hal itu diungkapkan dalam kesempatan tatap muka dengan SDM teknologi dan industri bertempat di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

ektor manufakturing perlu kerja detail menerapkan standardisasi dan peningkatan kapabilitas teknologinya. Masih rendahnya kapasitas nasional yang digarap dengan proses nilai tambah yang layak menjadi keprihatinan BJ Habibie. Keprihatinan terebut sangat beralasan karena hingga kini terjadi penurunan kemampuan industri nasional menyeimbangkan neraca nilai ekspor-impor secara signifikan.

Secara makro, ketidakseimbangan ini disebabkan oleh masalah efisiensi dan masalah produktivitas. Perlu merumuskan kembali strategi dasar pelaku industri yang mengedepankan faktor nilai tambah.

BJ Habibie, meskipun usianya telah menginjak 83 tahun, terus menekankan perlunya langkah cepat pemerintah untuk mendorong industri dengan produk yang memiliki nilai tambah besar saat dijual ke pasaran.

Salah satu cara agar produk tersebut bisa memiliki nilai tambah yang signifikan adalah dengan memanfaatkan teknologi yang tepat. Semua negara sedang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi terkini, antara lain dengan tajuk Industri 4.0 demi untuk mendapatkan nilai tambah sebesar-besarnya dan seefisien mungkin terhadap produk industrinya.

Pada hakikatnya, factory 4.0 atau pabrik cerdas yang saat ini sedang menjadi perhatian besar dunia adalah untuk mendapatkan nilai tambah yang paling ideal. BJ Habibie telah merumuskan konsep nilai tambah industri untuk negara berkembang sejak awal dekade 80-an.

Menurut pakar ekonomi dunia, Haller dan Stolowy (1995), value added atau nilai tambah adalah pengukuran kinerja entitas ekonomi. Arti nilai tambah adalah perbedaan antara nilai dari output suatu perusahaan atau suatu industri, yaitu total pendapatan yang diterima dari penjualan output tersebut, dan biaya masukan dari bahan-bahan mentah, komponen-komponen atau jasa-jasa yang dibeli untuk memproduksi komponen tersebut.

Nilai tambah diketahui dengan melihat selisih antara nilai output dengan nilai input suatu industri. Nilai tambah merupakan konsep utama pengukuran pendapatan suatu negara.

Konsep ini secara tradisional berakar pada ilmu ekonomi makro, terutama yang berhubungan dengan penghitungan pendapatan nasional yang diukur dengan performance produktif dari ekonomi nasional yang biasanya dinamakan Produk Domestik.

Pemerintah perlu konsolidasi industri nasional, baik BUMN maupun swasta untuk mendongkrak nilai tambah produknya. SDM teknologi nasional sudah cukup jumlahnya untuk bergotong royong dan memeras pikiran guna merumuskan proses nilai tambah produk nasional.

Sehingga, tidak ada lagi bahan baku dan setengah jadi yang dijual begitu saja ke luar negeri dengan nilai tambah yang kecil. Kondisi itu tentunya tidak bisa menyerap tenaga kerja secara optimal dan belum mampu mendongkrak ekonomi lokal secara kuat.

Kondisi perekonomian dunia yang semakin dinamis bahkan sewaktu-waktu bisa fluktuatif perlu kebijakan yang masih terkait positioning produk nasional. Positioning produk diwarnai bermacam disrupsi teknologi dan datangnya era Industri 4.0. Positioning produk nasional untuk mengatasi dampak perang dagang yang bisa menyebabkan banjir produk ke Tanah Air.

Perang dagang menyulitkan pemerintah yang berusaha keras meningkatkan kinerja ekspor. Indonesia sebagai bangsa besar, seharusnya kinerja ekspornya tidak kalah dengan Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Apalagi, kapasitas dan sumber daya alam dan jumlah SDM yang dimiliki Indonesia jauh lebih besar.

Sebagai catatan, Thailand mampu menghasilkan 231 miliar dolar AS dari ekspor. Tertinggi di Asia Tenggara. Sedangkan, Malaysia 184 miliar dolar AS dan Vietnam mencapai 160 miliar dolar. Sementara, Indonesia baru mencapai 145 miliar dolar AS.

Untuk menggenjot ekspor produk nasional tidak cukup lewat pameran perdagangan dengan skala lokal hingga global. Perlu mencari terobosan yang bisa menggenjot perdagangan sekaligus menjadi sistem bagi pengusaha untuk bertukar informasi tentang produk bernilai tambah tinggi. Pemerintah dan Kadin perlu merumuskan kembali mata rantai jaringan produksi global.

Indonesia juga mesti berfokus pada pasar dan kematangan produk serta nilai tambah. Hal itu sangat relevan di tengah banyaknya perusahaan di Tanah Air yang kini menghadapi ketidakseimbangan biaya bahan baku yang diimpor dengan hasil penjualan produk yang diekspor atau diserap dalam pasar domestik.

Selamat jalan, presiden ketiga RI, Bapak Teknologi Nasional, Bapak Demokrasi pencerah negeri.